Kamis, 21 Maret 2019

Kembali Menulis

Assalamualaikum sahabat "Lintang Dusunku".

Sudah lama ya tidak ada postingan, terlalu banyak kesibukan di pekerjaan, berkurangnya waktu luang dan terlalu banyak peristiwa yang menjadi pengalih kosentrasi sehingga begitu lamanya aku lupa dan berpaling dari blog ini.
Menulis kembali setelah sekian lama vakum itu rasanya seperti kamu yang belajar menghapal dan ketika akan di uji di depan penguji tiba-tiba hapalanmu itu hilang, begitulah...

Kegiatan menulis bagiku memang cuma sekedar hobi, meskipun begitu menulis tak bisa di lakukan ketika mood kamu sedang tidak baik. karena perkara menulis membutuhkan kosentrasi & inspirasi yang tinggi agar bisa menuangkan  cerita dalam kalimat-kalimat yang menarik. apalagi menulis cerita/ artikel yang mesti menautkan tentang tema kedaerahan.


Faktor yang menjadi kendala selama ini juga adalah kurangnya wawasan aku sendiri dalam memonitor perkembangan & Kabar berita di daerah kita Empat Lawang, karena aku sendiri malah bermukim di Lampung, meski tidak menyurutkan niat untuk berbagi cerita & mengenalkan kearifan budaya empat lawang, tapi ide-ide penulisan cerita akhirnya banyak yang tidak berjalan.
mengandalkan berita-berita di internet, medsos & kabar dari sanak saudara di Empat Lawang masihlah belum cukup untuk di jadikan bahan yang di kelolah untuk sebuah cerita yang sempurna.

Jadi apabila menulis cerita/ artikel menurutmu itu simple yakni cukup dengan meletakkan ujung pena ke atas kertas dan menggerakkannya sesuai dengan tuntutan dari arahan narasi yang ada di dalam kepalamu, mengalir tanpa ada hambatan layaknya sungai lintang yang bermuara ke sungai musi, maka semua orang pasti bisa melakukan hal yang sama.

Apalagi kalau lagi berusaha untuk menuliskan cerita berat, menggunakan gaya bahasa yang sulit, agar di lihat dan di anggap oleh pembaca kalau tulisan kita lebih berbobot, hehehe... 

Seperti saat ini seberapa keraspun aku berusaha, aku tetap tidak bisa menulis apapun. tetapi saat aku melihat keajaiban yang di lakukan oleh orang-orang di sekitarku yang sukses membuat keberhasilan, membuatku bertanya-tanya apa aku bisa menghasilkan hal yang sama, apa aku yang mulai tertinggal atau faktor usia telah mulai menggerogoti kemampuanku..?

Ahh.. usia tak ada hubungannya dengan ini, dan aku bukan orang yang hilang sebelum mencoba. hiburku dalam hati, selama kau ingat bahwa kau ingin menulis cerita yang menarik bagi orang-orang maka kau akan kembali berkembang hari demi hari, sesimpel itu. Melebihi dirimu yang kemarin adalah satu-satunya cara untuk membuat kemajuan.

Sekarang aku cuma perlu mencoba belajar kembali menuangkan ide-ide yang ada dengan gaya penulisan yang seadanya yang terbilang amatiran ini, aku tahu dan aku juga bisa mengukur sampai dimana kapasitas yang kumiliki untuk belajar menjadi seorang penulis.



Rabu, 30 Agustus 2017

Bujang Lapok

Pulang kampung di Empat Lawang pada bulan Juli  lalu sampai sekarang  masih menyisahkan beberapa pertanyaan dalam hati saya, terkait  beberapa Penomena yang Feneomenal yang membuat miris & geleng-geleng kepala melihatnya. mulai dari bertambahnya anggota komunitas orang gila, bertambahnya banyaknya tukang begal, bertambah banyaknya banci kaleng & bertambah banyaknya Bujang Lapok (bujang tuo)..  dan ini benar-benar fakta loh..

Dan bercerita tentang bujang lapuk, awal cerita yaitu saat pulang kampung kemarin saya  sempat bertandang ke rumah kawan.  Lama juga kami tidak bertemu, maklum saja, kami belum berjumpa semenjak tahun  2003 ketika saya meninggalkan kampung halaman mengadu nasib jadi anak perantauan . Selain itu semenjak saya menikah dan mempunyai anak, saya belum pernah berjumpa sekalipun dengannya. Sehingga, hari itu benar-benar saya mendapat kebahagiaan dobel.

Setelah di jamu dengan segelas kopi & sisa kue lebaran, kami mulai berbincang-bincang. Saat saya  menanyakan istrinya orang mana ia gelagapan, ternyata dia belum menikah. lantas saya tanya, kapan ia menikah. Maklum, di umurnya yang sebaya saya 35 tahun dia belum menikah. Ia katakan, sebenarnya ia ingin sekali menikah sesegera mungkin, tapi sampai sekarang pun ia masih belum mempunyai pacar, maupun perempuan yang ia rasa sukai.

Entah apa paktor yang menjadi penghambat bagi teman-teman yang umurnya hampir kadaluarsa ini sampai begitu susahnya mendapatkan jodoh. kebanyakan si alasannya  klasik,  alasannnya yaitu "kemapanan & modal"
Tapi di pikir-pikir  saya juga dulu nikah juga tak makai banyak modal, apalagi puluhan juta. Modalnya ya saya laki-laki dan hidup saja, cuma itu.. Tapi dengar-dengar rumor dari angin lewat ada juga sie faktor lain yang membuat seseorang betah menjadi lajang, faktor itu karena "kelainan" dalam arti tidak tertarik pada lawan jenis, tertariknya pada sama-sama jenis, Paham kan..?




Membahas persoalan kemapanan memang menjadi permasalahan klasik bagi pasangan-pasangan individu untuk memulai pernikahan atau untuk lebih tepatnya memutuskan untuk menikah. Tak jarang ini berbuah kepada penyurutan langkah untuk menikah.




Mengenai ini kok saya jadi berpikir, apa lantas ukuran klasik kemapanan dengan nominal-nominal itu menjadi syarat utama yang tidak tertulis. Untung saja saya sudah menikah, sehingga belum ada acuan syarat awal sebelum menikah harus punya modal puluhan berjuta-juta atau semacamnya. Darimana saya akan dapatkan itu, yang hanya seorang karyawan di perusahaan swasta.

Memtuskan menikah, meski belum mapan & dengan gaji yang kecil, saya percaya, bahwa masalah rizki Allah sudah ngatur. Saya tidak mau mengambil pusing masalah ini, apalagi persoalan menggenapkan separuh agama. Pasti Allah akan bantu. Orang-orang gelandangan, yang tidur ‘ngemper’ saja berani nikah” itu pikiran saya waktu itu. Ini menjadi bertolak belakang pemikiran dengan beberapa  orang teman saya.

Tak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini. masalah materi memang perlu menjadi pertimbangan saat menikah. Apa-apa duit. Akan tetapi, apa layak menjadi patokan? apa kemudian malah akan menjadikan penghambat bagi seseorang untuk menikah. Mestinya, jika tekad kita sudah bulat, serahkan semuanya pada Allah Swt.

Pun juga, dalam banyak kasus yang terjadi dan seringkali menjadi penghambat untuk menikah adalah persoalan tampang atau wajah. Ada banyak kisah lucu mengenai hal ini. perlu ditertawakan sebagai ironi. Patokannya, seseorang itu layak atau tidaknya sebagai pendamping hidup kita adalah dengan mengajaknya ke kondangan. Kalau seseorang itu berani mengajak ke kondangan berarti sepadan, jodoh, layak! Ironis yah..

Lantas, jika ia hanya layak dibawa ke sebuah pesta pernikahan, namun tak layak menjadi istri atau suami yang baik, bagaimana nasib biduk rumah tangga kita nanti? Akankah ikut surut bersamaan dengan surutnya undangan menghadiri pesta pernikahan?

Tentu, tidak salah mendamba pasangan tampan atau cantik, berkantong tebal, dan keturunan orang yang terhormat. Hanya saja, juga kurang pas saat semua itu menjadi halangan untuk menikah. Kalau masalah kantong yang menjadi masalah, tiba saatnya kita mengoreksinya. Bukankah Allah maha Pemberi Rizki, Pemurah dan Pengasih. Allah akan pasti beri kemudahan. Apalagi masalah materi, semua bisa dicari. Yang sekarang tidak dimiliki, bukan berarti tidak akan selamanya. Ini masalah usaha kita masing-masing, duit bisa dicari..

Selasa, 29 Agustus 2017

Memperkenalkan Cita Rasa Kopi Robusta Empat Lawang

Rasa-rasanya tak akan pernah asyik jika bertandang & mengobrol maupun bertamu tanpa di suguhi segelas kopi hangat.
Kita semua pasti sudah sangat akrab dengan kopi meski bukan penikmat kopi sekalipun. Di Indonesia sendiri banyak jenis dan karakter kopi yang ada, mulai dari Aceh sampai Papua. Hal itu pula yang menjadikan Indonesia sebagai penghasil kopi terbesar ketiga di dunia.

Kali ini saya mencoba bercerita tentang salah satu kopi yang berasal dari daerah kita tercinta Empat Lawang, Sumatera Selatan. Kopi ini adalah Kopi berjenis robusta yang memiliki aroma wangi  dan rasanya yang gurih meninggalkan kesan tersendiri bagi penikmatnya. meski tidak setenar kopi Robusta Basemah ataupun Kopi Robusta Lampung. tetapi perlu di ketahui bahwa mayoritas petani yang ada di Empat Lawang adalah Petani Kopi, dan hasil kopi Empat Lawang dari zaman dulu telah mengisi pangsa pasar kopi Indonesia.
Bahkan Empat Lawang menjadikan kopi sebagai ikon daerahnya.Tidak lengkap rasanya,jika datang ke Empatlawang tanpa menikmati secangkir kopi atau tidak membawa oleh-oleh kopi sebagai produk perkebunan andalan daerah tersebut.
Mayoritas Kopi Empat Lawang adalah jenis Robusta yang tumbuh di dataran tinggi di sekitar pegunungan & perbukitan.  adapun ciri khas Kopi Robusta adalah   rasanya yang lebih menyerupai cokelat. Bau yang dihasilkan juga manis. Tekstur dari kopi ini cenderung kasar dan memiliki warna yang bervariasi. Mungkin Anda perlu juga mengetahui ciri-ciri dari pohon Robusta. Pohon Robusta lebih rentan diserang serangga. Ini bahkan tumbuh pada daratan rendah yaitu sekitar 700 m dpl. Jumlah biji kopi yang dihasilkan juga lebih tinggi. Untuk proses berbunga, diperlukan waktu hingga 10 bulan yang nantinya menjadi buah. Jenis kopi ini berbuah pada suhu udara yang lebih hangat.
Rasa dari kopi Robusta, ini cenderung memiliki variasi rasa yang netral. Terkadang ini juga memiliki rasa atau aroma seperti gandung. Sebelum disangrai, biji kopi ini memiliki aroma kacang-kacangan. Yang disayangkan, amat jarang untuk menemukan robusta berkualitas tinggi dipasaran sana. Faktanya, harga biji kopi Arabica lebih tinggi bila dibandingkan dengan Kopi Robusta.
Kini untuk lebih mengenalkan kopi Empat Lawang, Pemerintah Kabupaten Empat lawang melakukan berbagai upaya mulai dari edukasi pada petani sampai peningkatan kualitas dalam prosesnya juga pemasaran. 

Seperti contoh pada bulai April 2017 kemarin Empat Lawang mengirimkan kadernya untuk mengikuti pelatihan "Uji Cita Rasa  Kopi" yang di adakan di Jember. hal ini di harapkan agar kelak dapat memberikan ilmu yang dapat di terapkan di masyarakat Empat Lawang sekaligus memperkenalkan kopi Empat Lawang di kanca Nasional.






Empatlawang yang memiliki tupografi daerah perbukitan,dikenal sebagai daerah sentra penghasil kopi di Sumsel.Dari 8 kecamatan,7 kecamatan di antaranya mengandalkan kopi sebagai produk andalan pertanian. Luasan perkebunan kopi di kabupaten dengan slogan Saling Keruani Sangi Kerawati tersebut mencapai 60.398 hektar lebih.
Saat ini perkebunan kopi di Empatlawang masih merupakan perkebunan rakyat dan menjadi mata pencarian utama.Tidak kurang dari 37.554 kepala keluarga (KK) di Empatlawang berprofesi sebagai petani kopi.Itulah menjadi salah satu alasan pemerintah setempat menjadikan kopi sebagai ikon daerah.Sehingga timbul istilah,belum merasa ke Empatlawang jika belum menikmati secangkir kopi dan membawa oleh-oleh kopi dari Empatlawang. 

Meskipun saat ini kopi asal Empatlawang belum dijual dengan kemasan khusus dan dipasarkan secara nasional,namun kekhasan kopi Empatlawang sudah mulai dikenal. “Untuk hasil perkebunan andalan,kopi masih menduduki peringkat pertama hasil perkebunan di Empatlawang dibanding jenis tanaman perkebunan lain. 

Sabtu, 08 Juli 2017

Kumpulan Ceramah Ustad Abdul Somad Lc, MA. (Mp3) & Ebook 37 Masalah Populer

Ustad Abdul Somad merupakan ustad yang sedang populer akhir-akhir ini. Selain karna penguasaan ilmu agamanya, terutama ilmu hadis, tapi juga karna cara penyampaian materi kajian yang menarik dan sering diselangi dengan candaan yang kerap memancing gelak tawa para jamaah.

Ustad Abdul somad mernurut kami pribadi merupakan ustad yang sangat disyukuri kehadirannya ditengah maraknya ustad-ustad bengkok yang banyak bertebaran akhir-akhir ini. Ustad bermazhab Syafi'i tapi dengan pemahaman yang dalam pada fiqih lintas mazhab, sehingga beliau bisa lebih bijak dalam menyikapi perbedaan pemahaman yang ada dalam masyarakat indonesia saat ini.

Biografi Lengkap Ustadz Abdul Somad, Lc. MA
Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan biografi Ustadz Abdul Somad, Lc. MA semoga akan lebih banyak yang bisa mengambil manfaat dari ilmu beliau.

Ustadz Abdul Somad, Lc. MA adalah seorang pendakwah lulusan S1 Al Azhar, Mesir, S2 Darul Hadits, Maroko - Dosen UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Beliau merupakan ustaz yang aktif berceramah melaluai media internet, khususnya media sosial.


    Nama Lengkap : H. Abdul Somad, Lc., MA.
    Kelahiran : Rabu petang tanggal 30 Jamada al-Ula 1314 Hijrah atau 18 Mei 1977 M.
    FP Facebook: @UstadzAbdulSomad
    Akun Instagram: @ustadzabdulsomad
    Website: http://somadmorocco.blogspot.co.id/

Riwayat Pendidikan

    SD al-Washliyah, tamat 1990
    Mts Mu'allimin al-Washliyah Medan, tamat 1993
    Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, In-hu, tamat 1996
    S1 Al-Azhar, Mesir.
    S2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko

Pengabdian

    Dosen Bahasa Arab di Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
    Dosen Tafsir dan Hadits di Kelas Internasional Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau.
    Dosen Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Yayasan Masmur Pekanbaru.
    Anggota MUI Provinsi Riau, Komisi Pengkajian dan Keorganisasian Periode : 2009 – 2014.
    Anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau, Komisi Pengembangan, Periode : 2009 – 2014.
    Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Periode : 2009 – 2014.

Karya Ilmiah Ustadz Abdul Somad
37 Masalah populer merupakan buku karya ustad abdul somad yang sering disebut dalam setiap ceramahnya ketika menjawab pertanyaan.berikut link donwload ebook 37 masalah populer.

Download Ebook 37 Masalah Populer


Berikut link download file audio cermah langsung.

Selasa, 27 September 2016

Ngetrip Lampung - Bengkulu (membelah bukit barisan)

Sabtu, 10 September 2016

Mudik. Satu kata yang selalu jadi perbincangan kawan-kawan di perantauan menjelang Lebaran atau Liburan panjang. Begitu juga lebaran idul adha kemarin, lebaran idul adha tahun ini saya sekeluarga (keluarga kecil, lebih tepatnya) memutuskan untuk pulang lebaran sekaligus liburan.

Satu bulan sebelum lebaran pun, keputusan mudik  merupakan keputusan final. Ada banyak hal  yang harus kami pertimbangkan ketika memutuskan untuk mudik, mulai dari urusan jadwal kerja, tanggal berangkat, lama mudik dan tentunya biaya mudik apalagi mudik kali ini di prioritaskan dalam rangka Liburan. jadi kami memutuskan lebaran kali ini menempuh rute perjalanan agak panjang yaitu : Lampung - Empat Lawang - Bengkulu - Manna - Kota Agung - Bandar Lampung.

Dengan kebulatan tekad beserta iringan doa, akhirnya perjalanan kami dimulai  pukul 17.00 wib start karang anyar, Lampung Selatan, deg-degan juga  awalnya, karena perjalanan kali ini pake mobil tua (Kijang Jantan tahun 90), hanya agak tenang setelah ingat petuah dari empuh montir bengkel ketika memeriksakan ni mobil, beliau bilang kalo mobil ini meski tua tapi sehat & meyakinkan untuk di gember dalam perjalanan jauh.

Meski tahun belakang saya perna mudik dengan mobil sedan tua (Twincam 91), tapi saya lebih yakin dengan Performa mobil itu ketimbang dengan mobil sekarang Kijang Jantan 90. 

Baru jalan satu jam, Sekitar pukul 18.00 kami berhenti di sekitar Bandar Jaya Lampung Tengah untuk mengabadikan perjalanan di Tugu Kopiah Emas, sekaligus istirahat makan malam. setelah merasa cukup istirahat perjalananpun dilanjutkan kembali, membelah malam provinsi lampung sambil melantunkan  iringan musik pop tahun 80-an.


Masih di Wilayah Lampung, tiba di Kota Bumi Lampung Utara pukul  21.00,  isi kembali tangki bahan bakar dan lanjut perjalanan, meski sedikit terhambat perjalanan karena lampuh tembak yang padam, tapi baik kembali setelah di otak atik sedikit kabelnya.
bagi saya menempuh perjalanan malam lebih asyik dibandingkan perjalanan siang, ya meski harus berjuang melawan rasa kantuk waktu menyetir. tetapi menikmati perjalanan malam dengan sebotol kopi, sebungkus rokok dan alunan lagu pop tahun 80-an itu merupakan sesuatu keasyikan sendiri.

Meninggalkan Wilayah Provinsi Lampung, memasuki wilayah Batu Raja  Perjalanan  lebih di dominasi oleh hutan Kecepatan mobilpun ku turunkan dari 80 km/jam turun ke 60 km/jam, melihat jam tangan menunjukkan pukul 03.00 subuh, dan keadaan jalan yang kurang bagus. aku putuskan untuk berhenti istirahat sebentar di SPBU sembari menunggu kakak yang katanya pulang juga dan posisi sedang ada di belakang kami.

Tak lama hanya sekitar lima belas menit Kakak menyusul, setelah ngobrol sebentar akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalananan.


Minggu, 11 September 2016 


Pukul 06.00 pagi, Matahari masih rendah sudutnya ketika kami memasuki kota Tanjung Enim,  terlihat menyembul pucak Bukit Serelo atau bukit telunjuk yang menjadi icon kota ini.  melihat ini penumpang dibelakang  langsung melongo ke depan buat mendokumentasikan view ini. 




Setelah memasuki wilayah  pagar alam, kami putuskan untuk istirahat cuci muka dan sebagainya di Sungai lematang, dan sembari sarapan nasi lemang yang di jual di pinggir jalan.






Setelah mata segar & tenaga pulih perjalanan dilanjutkan ke Kebun Teh Gunung Dempo, dan berikut reportasenya;


















Senin, 12 September 2016 


Moment di hari raya idul adha, kali ini bisa kompak, foto bareng dulu sehabis sholat id dengan Ayahanda, Kakanda & Adinda, hehehe...  cuma ini yang saya dokumentasikan, kebanyakan acara makan, jadi tidak sempat foto-foto lagi


Selasa, 13 September 2016

Habis berbenah dan bercakap cakap sebentar dengan keluarga,  pagi ini perjalanan kami lanjutkan ke kota bengkulu, mendapat bekal & sedikit wejangan dari umak & bak, tak lupa pelukkan hangat serta sedikit cucuran air mata, akhirnya kami melambaikan tangan beranjak meninggalkan kampung halaman tercinta "LINTANG EMPAT LAWANG". 

Sesampainya didaerah Kepayang, jalanan mulai berkelok-kelok pertanda sudah memasuki lintas kelok sembilan, artinya ini sudah sangat dekat dengan perbatasan Kota Bengkulu. 
memasuki kelok sembilan, tanjakan menurun dan suhu hutan lindung disepanjang Bukit Barisan lumayan dingin,  kami berhenti sejenak sekedar makan mie rebus dipinggir jurang yang begitu viur pemandangannnya.   dari kuah mie yang mendidih tidak sampai lima menit  mie habis kami lahap, panasnya mie sudah tidak berasa dibanding suhu yang ada disana,  bukan mendung bukan pula Hujan. Kebayang ‘kan dinginnya?











Menuruni bukit barisan akhirnya masuklah ke kota Bengkulu. Secara keseluruhan Kota Bengkulu adalah kota yang nyaman. Tidak terlalu besar tetapi semua fasilitas tersedia. Tidak pula terlalu padat kendaraan bermotor. Yang lebih mengesankan, banyak tinggalan kolonial Inggris (bukan Belanda) yang masih terawat apik.  Bengkulu yang juga disebut Bencoolen menarik hati Kolonial Inggris pada tahun 1685-1825. Setelah kalah bersaing dengan VOC di Jawa, pangkalan baru IEC jatuh ke Bang Kulon atau Bencoolen atau Bengkulu yang berarti pesisir barat. Penguasa-penguasa Inggris kemudian bekerjasama dengan penguasa lokal, membangun benteng dan juga perkotaan. Termasuk juga Thomas Stamford Raffles, pernah menghabiskan waktu bersama istrinya di pesisir tersebut. Hingga akhirnya berdasarkan Traktat London, Inggris harus menyerahkan Bengkulu kepada Belanda untuk ditukar dengan Singapore. Selanjutnya Raflles meninggalkan pesisir barat dan mengembangkan daerah Tumasik atau Singapura. Konon katanya, alasan kenapa Inggris rela melepas Bengkulu adalah karena malaria dan gempa.

Langsung ke Tujuan Wisata Pantai Panjang - Benteng Malborough. 



Mapir di Benteng Marlborough, benteng ini merupakan benteng pertahanan Inggris yang didirikan pada rentang tahun 1714-1718 dengan ukuran panjang 240,5 m dan lebar 170,5 m atau sekitar 44.100, m². 













Menghabiskan sore hari sembari menunggu penampakan sunset di Pantai Panjang sepadan dengan Perjalanan yang kami tempuh,  dan setelah seharian menghabiskan waktu di Bengkulu kami memutuskan untuk menlanjutkan perjalanan setelah habis waktu magrib. perjalanan pulang menuju lampung melewati Manna - Bintuhan - Pesisir Barat - Krui - Kota Agung.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 hujan gerimis sepanjang jalan. ketika beristirahat  di lesehan pinggir jalan yang masih wilayah bengkulu selatan beberapa penduduk lokal menasehati agar kami menginap saja di Manna, sebab jalur manna - bintuhan sedang tidak aman untuk dilewati pada malam hari. 
Perjalanan adalah soal mengenal keterbatasan diri sendiri. saya tidak perna terkendala dengan refleks di malam hari. Juga soal peforma. tapi seandainya harus menghadapi situasi antara hidup mati ya tinggal berserah dengan yang di atas.. hehehe.. maka dengan tekad bulat saya tetap putuskan melanjutkan perjalanan malam sendiri, kepikiran juga si bawah mobil tua ehh tiba-tiba mogok di tengah jalan tanpa ada penduduknya. (kebayangkan)


Rabu, 14 September 2016 

Manna - Bintuhan, Sendiri tampa lalu lalang kendaraan yang lewat di tengah malam, aku tetap menikmati perjalanan dengan suguhan kopi & sebungkus rokok melewati kawasan hutan dan pesisir pantai.  Aku lihat istri & anak serta Pengasuh anak sudah lelap tertidur, kecapaian seharian di bengkulu. 

Jam 03.00 subuh Memasuki Taman Nasional Bukit Barisan Selatan wilayah Tanggamus, dimulai dengan Tanjakan Tebing Batu, Way Manullah, di Pekon (Desa) Rata Agung Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat Lampung (perbatasan Lampung—Bengkulu) di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). tanjakan 90 derajat membuat mesin mobil meraung sampai mengeluarkan aroma sangit.  menghadapi kondisi ini sopir mesti harus handal dalam mengoper gigi & perseneling, satu kesalahan bisa berakibat fatal. tapi alhamdulillah medan ini akhirnya bisa dilewati. Menuruni bukit TNBBS aku memperlambat laju mobil menikmati segarnya udara hutan.  Jalan berliku dan menyempit di beberapa tempat jalan rusak berlubang. Di kiri kanan tumbuhan-tumbuhan hutan yang tidak saya ketahui jenisnya. Tidak banyak kendaraan yang kami jumpai, baik yang searah atau yang berlawanan arah.

Jalan yang menembus tnbbs pada dasarnya mulus dan berliku liku. Naik dan turunnya tidak curam dan tidak dihiasi jurang di kanan kirinya. Hanya di awalnya saja, yaitu di tanjakan sedayu tanjakan yg harus ditempuh sedikit curam, namun masih mampu di libas oleh Jantan 90. Dibeberapa tempat, terdapat kerusakan bekas longsoran, atau pohon yang rubuh. Riding di jalur ini siang hari sangat menyenangkan. 

Taman nasional bukit barisan selatan merupakan hutan tropis yang membentang di bukit barisan seluas 350.000 ha, membentang dari liwa sampai kota agung. Didalamnya terdapat keragaman hayati termasuk berbagai tanaman obat dan bunga raflesia. Berbagai fauna juga mendiami hutan ini, mulai dari gajah, harimau sumatera, monyet dan berbagai fauna lain. Kelebatan hutannya semula merupakan sumber air bagi beberapa kabupaten yang berbatasan. Namun perambahan hutan secara ilegal telah merusak hutan secara signifikan dan menimbulkan potensi banjir pada kabupaten kabupaten tersebut.....

Tahun 1998 an, jalan lintas tnbbs ini masih berupa jalan tanah, dan sungainya belum berjembatan. Motor yang hendak melintasi medan itu harus diberi rantai pada bannya, walau di musim kemarau sekalipun. Lebatnya hutan tnbbs menyebabkan tanah selalu dalam keadaan basah. Anda akan terhambat untuk mencapai pantai tanjung setia di krui. Akibatnya anda akan terpaksa singgah di pekon (dusun) setelah bengkunat. Dan singgah di pekon sekitar situ ditahun 1998-1999 adalah sebuah kenekatan, terlebih di pekon ngambur serta ngaras. Penduduk kedua pekon tersebut terkenal ganas karena menganut ilmu racun, yang harus digunakan membunuh orang bila tidak mau racunnya berbalik menyerang diri dan keluarganya.......

Namun kini cerita cerita semacam itu telah banyak berkurang seiring membaiknya jalur jalan menembus tnbbs. Orang bisa berkendara dari kota agung menuju krui selama 4 jam sehingga tidak perlu singgah di kedua pekon tersebut. Jalan lintas barat yg melalui tnbbs bahkan kini terkenal sebagai jalur teraman di lintas lampung. Tentu saja hanya di siang hari. Di malam hari, tidak seorangpun berani memberi jaminan....

Setelah melintasi naik dan turun Bukit Barisan, kami menjumpai pemandangan pantai berpasir putih dan laut biru dengan ombaknya yang besar menghantam tepian pantai. (07.00) Tiba di Muara Tembulih di pesisir Lampung Barat.



















Nah kalau sudah melewati turunan sedayu jalannya dominan mulus walaupun ada beberapa titik yang rusak. Diturunan itu kami tiba sekitar jam satu siang, dan terus ngacir hingga akhirnya tiba di Bandar Lampung dengan selamat jam  4 Sore. 

Hidup adalah rangkaian keputusan yang harus kita buat sepanjang perjalanan menuju al-haud. Tidak semua hal bisa kita dapatkan karena keterbatasan kita sebagai mahluk. Yang terpenting adalah kalian memahami kemana tujuan hidup kalian, dan memahami hal apa yang paling penting dari alternatif yang kalian hadapi. Sehingga ketika harus memilih, pastikan kalian memperoleh alternatif yang penting bagi tujuan hidup kalian, dan melepas hal yang tidak penting.

Senin, 11 April 2016

Live Simple, Sederhana itu Indah

"Tidak bakal susah orang yang hidup sederhana." Demikian sabda Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Ahmad. Hadis ini hanyalah salah satu dari sekian banyaknya sabda Nabi yang menyerukan pentingnya hidup sederhana. Dan, prinsip kesederhaan ini tidak hanya terucap melalui kata-kata tetapi juga mengejawantah dalam laku keseharian beliau.

Menurut Ibnu Amir, Rasul menaiki keledai berpelanakan kain beludru dan dibonceng pula. Sering menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan dari seorang budak, mengesol sandalnya, menambal pakaiannya, dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama istri-istrinya.

Pendidikan karakter sederhana memerlukan contoh dan tauladan. Terutama sekali dari orang tua dan orang dewasa yang ada di lingkungan keluarga. Namun menerapkannya tidak semudah mengucapkannya. Perlu waktu dan kebiasaan serta pandangan terhadap pola hidup sederhana. 


Banyak hal yang menentukan seorang bersikap hidup sederhana. Salah satunya adalah persepsi terhadap makna sederhana itu sendiri. Seorang pejabat eselon misalnya, sudah merasa hidupnya sederhana. Namun masyarakat menilainya sudah hidup mewah dengan segala fasilitas yang dimilikinya. Ada kendaraan dan rumah mewah serta fasilitas lainnya.

Seorang petani yang hidup di desa merasa hidupnya sederhana. Rumah sangat sederhana, mempunyai motor yang masih layak pakai. Pergi pagi pulangnya sore dari sawah atau ladang. Makan dengan lauk dan sayuran apa adanya. Penghasilan dari bertani hanya cukup memenuhi kebutuhan harian dan membiayai pendidikan anak.

Begitu pula seorang pegawai rendah yang berpenghasilan pas-pasan untuk hidup sehari-hari. Tidak memaksakan diri untuk memiliki sesuatu yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga. Dengan demikian akan terhindar dari beban pikiran berat karena sudah merasa cukup dengan apa yang diterima dan dimiliki.

Mungkin seeseorang akan menilai petani dan pegawai rendah seperti ilustrasi di atas tidak mempunyai motivasi kuat untuk hidup lebih bagus. Selalu mengalah dan tidak merasa gengsi ketinggalan materi dari orang lain.

Sebaliknya, pola hidup seperti petani dan pegawai rendah, bagus untuk diterapkan. Kenapa? Orang yang hidup sederhana dan merasa qanaah (cukup dengan apa yang dimiliki) biasanya lebih tenang dan nyaman menjalani hidup. Yang dipikirin hanyalah kebutuhan hidup minimal, terutama sekali kebutuhan pokok ( pangan, sandang dan papan). Tidak banyak memikirkan hutang ini hutang itu. Cicilan kredit ini dan itunya.

Jadi, hidup sederhana itu indah dan membuat pikiran nyaman. Memiliki kemerdekaan yang hakiki dalam hidup. Tidak banyak ancaman dan tekanan dari pihak luar. Tidak banyak pikiran (bukan berarti tidak berpikir) karena memang tidak memungkinkan untuk berpikir yang rumit-rumit.

Alangkah indahnya hidup sederhana. Betapa nyamannya hidup tanpa banyak beban pikiran yang menghimpit. Tidur enak meskipun di rumah yang sederhana. Makan dengan pakan nasi cabe dan garam mungkin terasa lebih nyaman. Mungkin….barangkali…

Jumat, 01 Januari 2016

Situs Purbakala & Peninggalan Kuno Di Empat Lawang

Terkait erat dengan daerah Lahat dan Pagar Alam yang banyak memiliki situs purbakala, begitu juga dengan Empat Lawang yang masih terikat dalam satu wilayah Provinsi Sumatera Selatan,  hal ini terkait di temukannya beberapa arca & dolmen & naskah kuno yang ada di Empat Lawang, adapun peningalan-peninggalan sejarah tersebut adalah :

1. Tujuh Batu Megalit

Baru-baru ini ada Tujuh batu megalit berbentuk arca manusia dalam berbagai ukuran ditemukan di areal hutan lindung di Kecamatan Talangpadang, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan,
Batu megalit berbentuk manusia dalam berbagai ukuran mulai dari anak-anak hingga manusia dewasa ini berada di satu lokasi, dan letaknya terpencar di atas lahan seluas sekitar satu hektare di kawasan perbukitan di perbatasan Sumsel dengan Provinsi Bengkulu.


                                                      (Gambar Ilustrasi)

Selain ditemukan patung, di daerah itu juga terdapat gua batu berukuran lebar 2 meter dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Tidak diketahui secara pasti kemungkinan adanya megalit lainnya, mengingat daerah itu jarang didatangi orang.

Jarak yang harus di tempuh untuk sampai ke lokasi adalah  empat jam dengan berjalan kaki dari Desa Talangpadang ke lokasi situs tersebut, dengan menjelajah hutan belantara dan perbukitan,"

Patung batu itu ada yang berbentuk seorang wanita, anak-anak, dan laki-laki dengan posisi berdiri tegak.Diperkirakan batu megalit itu sudah berumur ribuan tahun, dengan tinggi antara 1 hingga 1,7 meter dan kondisinya masih utuh dan sayangnya sampai saat ini belum ada dokumentasi lengkap tentang ketujuh arca ini.

2. Dolmen

Penemuan megalith jenis dolmen ini sudah lama di temukan oleh warga di Kecamatan Pendopo dan kecamatan Muara Pinang Kabupaten Empat Lawang. Dolmen yang ada di Kecamatan Pendopo berada di Dusun Gunung Meraksa lokasinya di belakang MTs Al Khoir di tempat perkebunan warga.



Dolmen atau meja batu merupakan tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen itu biasanya sering ditemukan kubur batu. Di Sumatera bagian selatan dolmen memang sering ditemukan.

Kemungkinan masih banyak peningalan-peningalan lain yang di temukan oleh warga, hanya saja di karenakan belum adanya penelitian jadi  tidak pernah di ceritakan oleh masyarakat dusun dan terekspos ke publik apalagi karena banyak masyarakat yang belum mengerti.

3. Kapak Batu

Perna tanpa sengaja ketika  surfing jelajah ke situs olx.co.id dan mampir di wilayah transaksi  Empat Lawang, saya menemukan hal  menarik, yaitu iklan yang menjual kapak batu. entah dari mana si pengiklan mendapatkan kapak batu tersebut tetapi saya yakin kapak batu tersebut juga berasal dari Empat Lawang, hal ini beralasan karena wilayah Empat Lawang banyak peninggalan-peninggalan megalitikum. Tetapi sangat di sayangkan apabila barang prasejarah ini di perjual belikan dan keluar dari wilayah empat lawang sebagai salah satu kekayaan peninggalan kuno.


Kapak Batu adalah sebuah batu yang mirip dengan kapak,  tetapi tidak bertangkai dan cara mempergunakannya dengan cara menggenggam. Kapak genggam terkenal juga dengan sebutan kapak perimbas, dalam ilmu prasejarah disebut chopper artinya alat penetak. betuk Batu tersebut dipahat memanjang atau diserpih sehingga berbetuk lonjong.


4. Naskah Kuno


Tim Survei Aksara Lokal Balai Arkeologi Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menemukan Dua naskah kuno di Pendopo Lintang, Kabupaten Empat Lawang.
Untuk meneliti lebih lanjut naskah kuno tersebut telah di turunkan tim peneliti aksara hurup ulu beranggotakan empat orang saat melakukan penelitian di lima kabupaten/kota sejak 12 April lalu.

                                                                    (Gambar Ilustrasi)

Dua naskah ini  ditemukan tepat di Desa Lingge,Kecamatan Pendopo,Empat Lawang. Isinya tentang bercocok tanam dan mengusir hama tanaman.
Memang untuk menemukan berbagai peninggalan bersejarah berupa aksara ulu dibutuhkan waktu dan melalui pendekatan terhadap masyarakat. Sebab peninggalan ini tidak semua orang menyimpan dan sifatnya hanya koleksi saja, pencarian berbagai benda bersejarah ini bisa dilakukan dengan mendatangi sejumlah “Dusun Tua”. Kemudian bisa juga di daerah pusat marga dan orang-orang yang menjadi elite pemerintahan pada zaman itu.







Rabu, 30 Desember 2015

Pemimpinku Pahlawan Atau Pecundang, Jangan Buta Hati

Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mamang-mamang, Bicik-bicik, Adek-adek & Kanco-kanco yang saya muliakan...
Pertama-tama, saya mengucapkan turut prihatin yang sedalam-dalamnya dengan kondisi daerah kita tercinta Empat Lawang ini, dengan berbagai musibah yang menimpah, khususnya bagi pemimpin daerah kita.

Sudah letih rasanya kita selalu menjadi daerah yang tertinggal  mekipun dari tanggal 20 April 2007, daerah kita Lintang IV Lawang  diresmikan sebagai Kabupaten yang ke 15 di Propinsi Sumatera Selatan, Delapan tahun adalah waktu yang cukup untuk kita belajar menjadi daerah yang mandiri, tapi bagaimana kita mau cepat mandiri, saat sekarang ini saja hampir setiap hari dapat dibaca dengan jelas berita-berita tentang kasus-kasus kejahatan ekstrim dan juga kasus korupsi yang dilakukan oleh pemimpin kita.

Kenapa  sih harus pemimpin kita...????  yah manusiawi si karena pemimpin itu dekat dengan kuasa.
Setiap Pemerintahan baik dalam kondisi normal atau pun dalam krisis politik, selalu menghasilkan dua alternatif: kehancuran dan kebangkitan, serta melahirkan pahlawan dan pecundang.
Dia yang menjadi pencundang bukan karena kalah dalam pertarungan. Tapi, karena mereka memilih untuk takluk pada kepentingan pribadinya, di daerah kita yang  masih membutuhkan pengorbanan, kejujuran dan contoh teladan.
Sementara itu, Pahlawan adalah dia yang rela menanggung derita, kecewa, bahkan kesempatan untuk menjadi populer karena berani berbeda pendapat dengan opini arus utama (mainstream) demi memajukan daerahnya. Pahlawan adalah dia yang berani bersikap tegas dan konsisten membela kebenaran dan menempatkan kepentingan daerahnya di atas kepentingan pribadinya.

Seperti yang kita ketahui sebelumnya dari berbagai media tentang kasus korupsi Bupati Empat Lawang Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut terdakwa kasus suap mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar, Bupati nonaktif Empat Lawang Budi Antoni dan istrinya Suzana Budi Antoni dengan pidana 6 tahun 4 bulan dikurang Rp 200 juta, subsider 2 bulan dan untuk sang istri, 4 tahun denda Rp 200 juta, subsider 2 bulan.
Dan tuntutan ini membuat geram dan tak dapat di terima oleh para pendukung dan simpatisannya, seharusnya kita para pendukung sudah sepatutnya tidak menganggap pimpinan dukungan kita selalu benar, sebaliknya kita pendukung semestinya menjadi kontrol dalam pemimpin dalam menjalankan tugasnya.


Memang benar adanya Kasta tertinggi yang ada di Negara ini tentunya dan pastinya adalah golongan koruptor, mengapa golongan koruptor? Karena golongan ini bisa melakukan apa yang dia mau dengan materinya. Lalu, orang-orang kasta dibawahnya tidak bisa melawan meskipun sudah ada lembaga independent, sebaliknya malah sebagian menjadi penjilat-penjilat yang mengharap mendapatkan bagian keuntungan dengan kedudukan pemimpinnya.

Negeri lelucon dimana yang jahat bisa bangga, hidup damai dan tentram. Sementara yang baik dan jujur akan tertindas. Dinegara-negara lain jangan harap bisa seperti itu. Bila ada tindakan korupsi dan perbuatan bejat, pasti sudah didemo habis-habisan, ditekan habis-habisan atau mungkin kantor dan rumahnya diserbu oleh rakyat. Seseorang pejabat yang terbukti merugikan rakyat dan negara pasti sudah akan hilang tidak pernah muncul lagi, dipenjara, dibuang atau malu sehingga lari mengasingkan diri bahkan mungkin bunuh diri karena malu seperti di Jepang.

Kita semua bisa menjadi pecundang. Bisa pula menjadi pahlawan. Sebab predikat demikian sangat situasional dan tergantung siapa yang memberikan. Seorang pahlawan hari kemarin, bisa menjadi pecundang hari ini. Begitu pula sebaliknya. Celakalah mereka yang terus-menerus memainkan peran pencundang dari hari kemarin hingga kini

Jumat, 20 November 2015

Makan Sirih, Tradisi Sehat Yang Makin Di Tinggalkan

Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari berbagai golongan, meliputi masyarakat bawah, pembesar negara, serta kalangan istana.  Tradisi makan sirih tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Dari cerita-cerita sastra, dikatakan tradisi ini berasal dari India.

Pelaut terkenal Marco Polo menulis dalam catatannya di abad ke-13, bahwa orang India suka mengunyah segumpal tembakau. Sementara itu penjelajah terdahulu seperti Ibnu Batutah dan Vasco de Gama menyatakan bahwa masyarakat Timur memiliki kebiasaan memakan sirih.

Di masyarakat India, sirih pada mulanya bukan untuk dimakan, tetapi sebagai persembahan kepada para dewa sewaktu sembahyang di kuil-kuil. Beberapa helai daun sirih dihidangkan bersama dengan kelapa yang telah dibelah dua dan dua buah pisang emas.

Sirih sangat dikenal di kalangan masyarakat Melayu. dulu selain dimakan oleh rakyat kebanyakan, sirih juga dikenal sebagai simbol budaya dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam adat istiadat Melayu. Sirih dipakai dalam upacara menyambut tamu, upacara merisik dan meminang, upacara pernikahan, pengobatan tradisional, dan berbagai upacara adat yang lain.

Begitu juga di Lintang Empat Lawang, tradisi makan sirih ini juga sudah di wariskan secara turun temurun namun pada saat ini makan sirih hanya di pertahankan oleh kalangan sepuh alias nenek-nenek (Nekno) saja yang masih melakukannya. meskipun tradisi ini sudah dilakukan turun temurun namun dengan semakin majunya zaman, maka perlahan-lahan tradisi inipun di tinggalkan.



Makan sirih biasanya dilakukan disela waktu senggang ataupun sembari melakukan aktifitas ringan lainnya. Jika kaum pria memiliki kebiasaan merokok menggunakan rokok nipah (berbahan daun lontar/ jagung) sehabis makan maka bagi kaum perempuan juga biasanya melakukan tradisi makan sirih.

Selanjutnya dalam tradisi makan sirih ini  ada istilah Pridon. Pridon  sendiri adalah wadah untuk menampung air ataupun cairan berwarna merah pekat yang dihasilkan ketika bahan-bahan tersebut dikunyah berbentuk seperti vas bunga yang terbuat dari tanah liat atau logam. Sangat terasa sekali aroma gambir dan daun sirih kala kita berada didekat pridon ataupun orang yang sedang makan sirih. Kemudian mako adalah tembakau yang digumpalkan kemudian digunakan untuk membersihkan sela-sela gigi dari bahan-bahan yang dikunyah.



Bagi wanita, nyirih akan mempercantik diri asalkan tidak jorok. Bibir akan secara alami berwarna merah tanpa menggunakan lipstik. Dengan nyirih, gigi akan menjadi kuat sampai tua. Buktinya nenekku (Almarhum) dulu yang  usianya menginjak 60 tahunan giginya masih  masih kuat dan tidak perna sakit gigi. Resikonya cuma satu yaitu gigi menjadi kemerahan bahkan menghitam luarnya, tapi kuat.

Selama ini memang sangat diyakini oleh masyarakat bahwa daun sirih memiliki banyak manfaat. Tidak hanya dimanfaatkan secara tradisional, daun sirih juga sudah banyak diolah secara modern sebagai bahan obat-obatan herbal. Satu diantara manfaat daun sirih tersebut adalah mampu mengobati gigi dan gusi yang bengkak. Belum lagi lane alias kapur yang sudah pasti banyak mengandung kalsium juga sangat diyakini mampu membantu menjaga kesehatan gigi.

Mau coba? siap-siap saja merasakan sensasi pedas dan rasa pengah ketika mengunyah bahan-bahan tesebut. Akan tetapi jika sudah mencoba bersiaplah untuk ketagihan. Mudah-mudahan saja tradisi makan sirih tetap bisa dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya.


Berikut ini hal-hal yang dibutuhkan

1. Daun sirih



2. Kapur sirih


3. Gambir/ getah gambir


4. Tembakau/ mako

5. Buah Pinang



Cara Makan sirih yang saya  ketahui urut-urutannya adalah sebagai berikut :

Ambil 1 sampai 2 lembar daun sirih
Ambil sedikit kapur sirih, sedikit isi biji pinang yang muda, dan gambir kemudian bungkus dengan daun sirih tersebut
Kemudian kunyah daun sirih beserta isinya sampai hancur
Untuk membersihkan gigi, pakailah tembakau. Aku nggak tau mengapa harus tembakau. Tapi kayaknya untuk mengurangi rasa pedes sirih.
Sebagai contoh berikut ini foto-foto orang yang sedang nginang.



Ayo bagi kaum wanita  tidak ada kerugian mencoba perawatan gigi ala tradisional ini. Buktinya adalah sampai umur lanjut, gigi masih kuat. Jangan sampai anda ketika sudah tuir pengin makan peyek tapi sudah tidak punya gigi. Hehehe..…

Kamis, 19 November 2015

Mengejar Mimpi Si Petani Kopi

Meski saya bukan petani tapi saya selalu ingin menjadi seorang petani. Bukan karena orang tua saya, keluarga besar saya, dan rata - rata penduduk kampung saya juga petani. Tetapi bertani bagi saya merupakan hal yang menyenangkan.  kebun adalah pelarian yang sempurna, lambaian daun-daun kopi muda berumur tiga atau empat bulan, atau bunga-bunga putih harum yang memenuhi dahan-dahan kopi berumur dua tahun menjadi obat penat sekaligus herbal penyegar tubuh.



Berkebun kopi sudah dilakukan secara turun temurun sejak kapan saya tak tahu kapan persisnya. Bapak saya petani kopi, nenek saya juga petani kopi, cerita nenek dulu bapaknya nenek juga petani kopi. Kopi adalah penghasilan utama penduduk Lintang Empat Lawang, selain beras. Ribuan hektar kebun kopi tersebar di tiga kecamatan di daerah saya. Jika saat musim panen tiba, antara April sampai September, saat itu sudah mulai masuk musim panen, namun puncaknya nanti pada bulan Juni hingga Agustus, maka wajah-wajah petani kampung saya terlihat sumringah, apalagi jika harga kopi mahal. Saat ini harga biji kopi kering di kampung saya ada dikisaran Rp 19.000-Rp 20.000 perkilo dan untuk bubuk kopi siap seduh Rp 40.000 – Rp 50.000.- Harga ini termasuk bersahabat dengan petani, mengingat harga-harga kebutuhan pokok juga tidak karu karuan.



Di Lintang Empat Lawang Hampir seluruh petani menanam kopi. dulu perna pada  waktu harga kopi melambung tinggi orang-orang membabat seluruh kebun, hutan sampai bukit  untuk ditanami kopi. Siapa yang tidak tertarik menanam kopi waktu itu? Ketika orang-orang terkena krisis moneter, para petani kopi justru merasa bagai di surga.
Harga kopi melangit. Para petani yang menanam kopi jadi orang kaya seketika. Banyak di antara penduduk desa yang saking banyak uangnya, mereka bingung harus menaruhnya di mana. Ada yang membeli motor, mobil, dan sebagainya. Lucunya, ada yang membeli alat-alat elektronik seperti Tivi, kulkas, bahkan antena parabola, padahal di rumahnya saat itu belum ada aliran listrik. Disimpan saja dulu, alasan mereka. Akhirnya kulkas pun berubah fungsi jadi lemari pakaian.
Pada masa itu para petani bagai orang gila. Uang dihambur-hamburkan saja, seakan-akan tiada harganya. Bahkan ada yang sampai menggulung tembakau dengan uang kertas, lalu menyulutnya sebagai rokok. Apa yang mereka ingin dapat mereka beli. Anak-anak sekolah menyimpan uang di saku mereka jumlahnya kadang-kadang hampir setengah juta.
Itulah Manusia. kadang mereka lupa bahwa keadaan tidak selamanya akan berjaya. Harga kopi tiba-tiba anjlok. Harga satu karung goni kopi saja bahkan tidaklah cukup untuk sekedar membayar upah orang yang mengangkutnya. Masyarakat panik. Uang mereka sedikit-demi sedikit mulai terkikis. Semua kebutuhan bahan makanan harus mereka beli. Setelah uang yang disimpan sudah habis, orang-orang mulai menjual lagi barang-barang yang dulu dibeli, dengan harga yang jauh lebih murah tentunya. Meskipun barang-barang itu ada yang belum pernah mereka nyalakan sekali pun, orang tetap tak akan mau membelinya dengan harga seperti ketika dibeli dulu.
Tapi sekarang harga kopi memang sudah cukup lumayan, sehingga banyak para petani mulai kembali lagi ke kebun kopinya, kembali memompah semangatnya berangkat ke talang di atas bukit nun jauh disana,  berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya, mendaki tebing curam, batu terjal & derasnya arus sungai.
Berbulan-bulan sampai bertahun-tahun meringkuk di sebuah dangau kecil di tengah kebun kopi jauh di tengah hutan sana, demi menggantungkan mimpi yang kelak merubah keadaan hidup.



Tradisi minum kopi di kampungku bukan sekedar menikmati sajian segelas air yang dihitami oleh sesendok bubuk kopi, lebih dari itu minum kopi merupakan simbol keakraban, kekeluargaan dan persahabatan.   Maka jika anda berkunjung ke Lintang Empat Lawang, kampung saya, maka rasanya kurang hormat kami sebagai tuan rumah jika tidak menyajikan  kopi

Entah sejak usia berapa saya mulai menyeruput kopi dengan segala sensasi dan konsekuensi yang ditimbulkan. Bukan karena ikut-ikutan gaya hidup atau semacamnya, tetapi secara keluarga adalah peminum kopi dan ditambah lagi lingkungan geografis sebagai penghasil kopi yang mempunyai sejarah cukup panjang.


Bagi pecinta dan penikmat kopi jika berkunjung ke kampungku maka itulah surganya, tapi jika anda bukan peminum atau penikmat kopi maka anda akan tersiksa, karena setiap bertamu anda akan disuguhi kopi, jarang sekali ada teh apalagi jika hanya air putih he he Kampung saya adalah kampungnya petani kopi.
Lebih dari itu, ternyata dibalik nikmatnya secangkir kopi juga menyimpan pahitnya hidup petani kopi. Pernahkah kita peduli atau setidaknya mengingat para petani kopi ketika menyeruput secangkir kopi? Pernahkan membayangkan bagaimana kopi itu diproduksi dan diproses hingga hadir di hadapan kita? Pernahkah kita berempati ketika harga-harga kopi petani jatuh hingga terkadang biaya produksi, bahkan sekadar biaya petik lebih mahal dari harga produknya? Nasib petani kopi kita terkadang setali dengan rasa kopi tanpa gula, pahit! Tetapi pahitnya jelas tanpa sensasi seperti pahitnya kopi yang sering kita nikmati.



Seorang kawan bahkan pernah blusukan dan menuliskan hasil risetnya tentang kopi-kopi yang dihasilkan petani-petani kecil di Empat lawang yang rata-rata bermutu rendah. Oleh karenanya, kopi-kopi petani itu pun juga dihargai rendah oleh para tengkulak dan pabrik pengolah kopi. Petani tak kuasa menentukan dan menciptakan grade tertentu akibat berbagai keterbatasannya. Sementara pabrik pengolah kopi itu hanya mau tahu kopi yang dibeli dari petani harus bermutu sesuai keinginannya.

Disaat lain, dalam penentuan mutu kopi, pembeli seringkali curang dengan hanya mengandalkan kepekaan tangan mereka meskipun memiliki alat pengukur kadar air yang lebih canggih. Mereka hanya mengandalkan tangan jika menghadapi petani sehingga bisa mengakali kadar air sesungguhnya, tentunya untuk menekan harga ditingkat petani dan mencari keuntungan yang lebih besar, karena harga yang diterima petani dari pedagang tak lebih dari setengah harga di pasar. Ini tentu membuat petani sangat menderita.

Dari secangkir kopi, juga memunculkan bagaimana pertarungan ekonomi kopi terjadi. Tak sekadar antara petani dan pengusaha atau tengkulak-tengkulak, tetapi juga merembet ke warung kopi yang dianggap tradisional berhadapan dengan cafe-cafe yang lebih modern dan bahkan berbentuk corporate multinasional. Mereka, para pengusaha besar memunculkan persaingan ketat antar pengusaha kopi (instan) dengan cara perang iklan di media. Hasilnya, saya yakin mereka sebagian besar mereguk keuntungan yang besar, sementara petani-petani kopi skala kecil banyak yang terinjak oleh pertarungan mereka. Begitulah, menikmati secangkir  kopi memang bisa mendapatkan sensasi dan bahkan pengalaman batin tersendiri. Lalu, apa yang anda rasakan ketika menikmati secangkir kopi?