Senin, 23 Desember 2013

Evaluasi Keberhasilan Empat Lawang Di Akhir Tahun 2013

Tak terasa bentar lagi habislah tahun 2013 ini, dalam suatu perusahaan pada akhir tahun  biasanya di adakan Audit Perusahaan, mengevaluasi kemajuan perusahaan tesebut, sedangkan bagi individu akhir tahun di gunakan untuk introveksi atas prestasi yang telah di capainya selama satu dekade yang telah di lewati, nah..  disini saya ingin mengevaluasi perkembangan dari daerah kita tercinta kabupaten Empat Lawang.
Oya sebelumnya evaluasi ini merupakan  IMO  (In my opini) pribadi saya.. jadi maaf sebelumnya bagi mamang atau bicik yang tidak setuju dengan opini saya.. 

sebelumnya dalam penulisan blog ini awalnya sebagian artikel dulu saya tulis menggunakan bahasa dusun Lintang yang mana saya pikir selaras dengan judul blog ini, tapi setelah ada beberapa teman bloger dari luar daerah lintang yang mampir di blog ini saya pikir artinya  tidak menutup kemungkinan ada banyak juga orang-orang di luar sana yang ingin mengenal daerah kita Lintang Empat Lawang, dari itu saya putuskan untuk memakai bahasa nasional sebagai bahasa tulisan blog ini.

Sebenarnya kita dapat mengukur secara normatif, sebagaimana standar yang di keluarkan pemerintah dalam berbagai bentuk peraturan pemerintah tentang evaluasi penyelenggaraan pemerintah daerah. Detailnya dengan angka-angka statistik hinggah indikator kualitatif di sini perannya BPS Empat Lawang dalam mendata semua dengan benar dan nyata serta uptudate dikonsumsi masyarakat.
Sampai saat ini saya belum pernah melihat dan membaca ada satu lembagapun yang melakukan penilaian dan evaluasi secara komprehensif dan objektif terhadap pelaksanaan otonomi daerah Empat Lawang. Banyak memang kita melihat dan membaca berbagai pariwara yang ada di media massa mengunkapkan kemajuan ini, membeberkan kemunduran itu.. dan bla..bla..bla..  


Tapi yang paling terasa untuk mengevaluasi yaitu dengan melihat secara nyata, contohnya dengan variabel pembangunan, yakni pendidikan, kesehatan dan perekonomian. Sekarang coba kita bandingkan apakah Kabupaten Empat Lawang sudah memenuhi standar penilaian pemerintah dalam kemajuan suatu daerah? 
beragam warna dan hasil yang muncul dalam dua periode pemerintahan di kabuapten Empat Lawang, ada yang mendapat apresiasi oleh masyarakat tetapi ada juga yang dimaki, ada yang berinovasi dan berkreatifitas tinggi tetapi juga ada yang terjebak dalam praktek kongkalingkong kolusi dan korupsi.
Apa yang menjadi indikator suatu daerah dikatakan berhasil ?
Sejauh ini pengamatan saya dilapangan, masyarakat tahunya bahwa otonomi daerah itu dikatakan berhasil jika keamanannya terjamin, kebutuhan pangannya mencukupi, anaknya bisa sekolah dan prasarana jalan tempat tinggalnya untuk mempelancar usaha ekonominya sudah baik. Jika indikator ini yang kita pakai saya rasa untuk Kabupaten Empat Lawang belum bisa dikatakan bahwa otonomi daerah Empat Lawang sudah berjalan baik. yang ada malah kemunduran.

Pertama; di bidang Birokrasi, bagaimana tidak sekarang orang nomor satu di Empat Lawang (Bupati Empat Lawang) kini terjerat kasus Korupsi dalam pemenangan Pilkada tahun 2013.  






Kedua; di bidang sosial, keamanan masyarakat makin tidak terjamin, selama beberapa dekade terakhir seperti jamur di musim hujan berbagai tindak kejahatan makin menjamur di daerah Empat Lawang, mulai dari perampokan, pembunuhan, ganja, dan tindak kriminal lainnya.       

Ketiga; di bidang Infrastruktur juga belum memperlihatkan hasil yang memuaskan, banyak pembangunan yang terkesan lambat dan tertunda.  

        


Sesungguhnya banyak indikator secara kualitas dan substansial yang dapat digunakan bagi suatu daerah dikatakan berhasil untuk mempercepat laju pembangunan dan percepatan kesejahteraan masyarakat, yang mungkin selama ini tidak pernah diekspos, seperti ; keterbukaan dan keakuratan data akan Indeks kemiskinan (kadang data kemiskinan ini amat fleksibel, jika ada program bantuan dana bagi masyarakat miskin seperti BLT maka indeks kemiskinan akan tinggi, tapi jika ada penilaian daerah yang berhasil dalam program pemberantasan kemiskinan maka indeks masyarakat miskinnya bisa berkurang), indeks persepsi korupsi, indeks suap, indeks pembangunan manusia, tingkat kompetisi suatu daerah, akses dan pemerataan pendidikan, indeks pelayanan kesehatan, peningkatan efisiensi administrasi keuangan daerah, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, perencanaan dan penganggaran keuangan daerah yang efektif dan berkeadilan, efektifitas fungsi fungsi pelayanan eksekutif, pembinaan dan pemberdayaan lembaga-lembaga dan nilai nilai lokal yang bersifat kondusif terhadap upaya memelihara harmoni sosial dan solidaritas sosial, produk hukum yang dihasilkan yang memihak pada kemaslahatan hidup masyarakat, dan indikator lainnya.
kalau kembali ke tujuan pembentukan, pemekaran, penghapusan dan penggabungan daerah adalah untuk meningkatkan kesejateraan rakyat melalui peningkatan pelayanan, percepatan demokrasi, percepatan perekonomian daerah, percepatan pengelolahan potensi daerah, peningkatan keamanan dan ketertiban, serta peningkatan hubungan serasi antara pusat dan daerah. dengan demikian, setiap kebijakan pemekaran dan pembentukan suatu daerah baru harus menjamin tercapainya akselerasi pembangunan daerah dan kesejahteraan rakyat.

Tugas pemerintah dan kita semua mengevaluasi untuk menyatakan dengan sebenarnya apakah kita benar-benar melihat dan merasakan perubahan kemajuan Emapt Lawang atau tidak terlihat kemajuan yang berarti. 

Senin, 25 November 2013

Forum Peduli Empat Lawang (FPEL)

Sabtu tanggal 23 Nopember 2013, terlahir organisasi FORUM PEDULI EMPAT LAWANG yang di deklarasikan Oleh para Toko-toko Masyarkat Empat Lawang. dengan mengumpulkan ratusan masyarakat Empat lawang sebagai saksi terlahirnya organisasi ini.



FORUM PEDULI EMPAT LAWANG merupakan  lembaga alternatif yang kelak berfungsi sebagai wadah yang menampung aspirasi dan mengapresiasikannya di tengah masyarakat serta menyampaikan pengaduan-pengaduan, membangun komunikasi dan silaturahmi antar komunitas masyarkat Empat Lawang. Meningkatkan kapasitas kepedulian masyarakat terhadap pengawasan kinerja pemerintah daerah Empat Lawang.

Foto


FPEL terbentuk dari gagasan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang di mutasikan oleh pemerintah daerah Empat Lawang  pasca dimenangkannya Pilkada oleh  Bupati Empat Lawang yang menjabat sebelumnya yaitu "H. Budi Antoni", yang di rasa oleh para PNS ini tidak wajar dan tidak adil.  hal ini di pandang bukanlah suatu perubahan maupun penyegaran ke arah yang lebih baik, melainkan suatu tindakan yang semenah-menah dari seorang Pemimpin yang menghukum masyarakatnya yang tidak pro dengannya, sebab jumlah PNS yang di mutasikan ini tidak tanggung-tanggung lebih kurang 500 orang yang di mutasikan.

Pemerintahan Empat Lawang yang di pimpin Oleh Bupati H. Budi Antoni selama dua Dekade ini juga di rasa oleh Masyarakat empat lawang tidaklah membawah kemajuan, untung-untung ada kemajuan malah Bupati yang baru di lantik kembali ini terjerat kasus hukum yang di tuding telah menyuap Hakim Mahkamah Konstitusi "Akil Mocthar" untuk memenangkan Pilkada yang baru saja di menangkanya.

Memang, tak ada kabupaten di indonesia  ini yang sama sekali bebas dari korupsi. Tapi, harus diakui bahwa peran suatu ormas maupun LSM dalam mengawasi jalannnya pemerintahan daerah dapat menekan timbulnya  korupsi.

Manusia beretika mestinya menyadari akibat buruk perbuatannya pada orang lain, baik pada masa kini maupun generasi selanjutnya. Manusia beretika harusnya bertekad seperti apa yang dikatakan Aristoteles, “lebih baik menderita daripada melakukan kejahatan.” Hans Jonas, seorang filosof Jerman-Amerika, secara lebih luas mengungkapkan, Bertindaklah sedemikian rupa hingga akibat-akibat tindakan kita dapat diperdamaikan dengan kelestarian kehidupan manusiawi sejati di bumi.”Manusia wajib hidup damai dengan sesama dan hidup damai dengan alam.
Bayangan buruk dari akibat perbuatan jahat pada masa kini terhadap masa mendatang harusnya membuat kita berusaha bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang kita lakukan. Kaderisasi koruptor dengan alasan apapun harus disudahi oleh segenap rakyat Empat Lawang,  Dipandang dari sudut manapun, kaderisasi koruptor tak memiliki pijakan kemanusiaan. 

Setiap orang  yang menduduki jabatan publik harus mencamkan kebenaran ini. “Jabatan politik sudah selayaknya dihayati sebagai panggilan (calling) untuk melayani.” Hanya dengan kesadaran itulah mereka bisa waspada untuk tidak dikuasai napsu untuk berkuasa, dan menghalalkan segala cara. Elite yang memahami jabatan sebagai pusat pelayanan, tentu akan dengan jujur dan sadar menempatkan ranah politik sebagai media atau panggung dimana kepentingan umum menjadi tujuan.

Jumat, 22 November 2013

Jadi Orang Dewasa Itu Enak, Tapi Susah Tuk Di jalani.

Halo kepada kamu sekalian yang lagi baca (nie curhatan lo ceritanya). oke sedang duduk atau pun berdiri, saya tidak peduli. sedang telentang atau dalam posisi kayang, saya juga tidak melarang. Kamu yah, kamu, yang penting kamu nyaman dan sedang dalam posisi yang konvensional,  setidaknya menurut kamu.

Tararam. saya lagi senang mendengar koleksi instrumen dari Yiruma yang menjadi obat manjur kalo otak mulai tidak waras, entahlah saya kurang begitu ingat kapan saya mulai menyukai music-music instrument ini, tapi yang jelas dulu saya lebih menyukai lagunya Joshua yang judulnya ngobok-ngobok aer gitu, ketimbang music-music penendang tidur ibu hamil ini.

sekali lagi bukan karena paksaan, tapi saya sedang binggung, sangat binggung, sangat sangat binggung sehingga saya kecanduan mendengarkan music-music ini untuk  meluruskan kembali posisi duduk saya ketika saya kerja dan merilekskan kembali urat-urat sadar saya...  lebay... 

menurut saya. iya, ini menurut saya lo,, kebinggungan saya ini timbul setelah saya mengalami apa yang saya sebut dengan pendewasaan...  jreng-jreng,,  (baru sadar lo kalo bentar lagi mo punya anak)

Benar lo, untuk menjadi dewasa itu tidak mudah, saya harus banyak mengontrol emosi. Menjadi dewasa juga harus bersikap lebih bijak, penuh dengan tanggung jawab tetapi juga harus tetap realistis.
menjadi dewasa itu benar-benar perjuangan. mungkin sebagian dari kita perlu berdamai dengan kondisi dari dalam diri sendiri ataupun lingkungan, apa yang terjadi harus di hadapi, itu yang namanya dewasa, bukan lari dan mempercayai bahwa masalah akan terselesaikan dengan sendirinya tanpa ada perbuatan yang kita lakukan.
Kadang saya sendiri sering berputus asa dengan apa yang terjadi saat ini. apa yang harus di lakukan untuk menuntut saya menerima tahap kedewasaan saya. " lebih dewasalah maksudnya"
tetapi dengan santai & mengalir dengan lancarnya, serta bersikap dewasa sewajarnya? menurut versi saya, entahlah...

umur saya sekarang 28 tahun,,sudah mau tua, sudah mau renta, sudah mau mati dan ditelan bumi
tapi saya masih belum bisa menerima dengan ikhlas lingkup kehidupan orang dewasa.
saya terkadang suka  menoleh kebelakang, bukan, bukan dengan cara memutar sendi leher 100 derajat kesamping, "Oh itu saya masih umur 5 tahun, masih main mobil-mobilan", "Oh ini saya umur 19 tahun, masih main layang-layangan". dan sekarang saya sudah dewasa, sudah puas pacaran dan punya istri sekarang sebentar lagi saya mo punya baby..  tapi kenapa pusing begini ya.. why...?  Kenapa kamu tidak jawab sih?
Oh mungkin kamu menjawab, tapi saya tidak dengar. Maaf kalau saya tidak mau dengar kata-kata kamu, saya ini masih belum dewasa.Ya, karena begitulah tabiat saya, tabiat orang dewasa yang menolak untuk dewasa.

Kenapa kamu tidak suruh saya jadi dewasa sih? Oh mungkin kamu sudah suruh, tapi saya menundanya
Ya, karena begitulah tabiat saya, tabiat orang yang belum dewasa, Menunda-nunda apa yang seharusnya dilakukan.
 Kamu pasti bingung,,hehehehe,,  "Janganlah engkau bingung, ragu dan bimbang anakku,," saya juga lebih binggung.
Maksud saya begini. saya sudah jadi dewasa, tetapi saya pengen kedamaian seperti masa kecil dulu, plog seperti abis ngebuang ingus filek. Menjadi dewasa dan tidak harus  mengalami banyak masalah, meskipun kata orang, banyak masalah itu membuat kamu tegar dan makin dewasa.

Saya tidak sedang menunggu apa-apa atau siapa-siapa, yang dapat memberikan pencerahan agar saya benar-benar sempurna di tahap dewasa ini, menjadi bijak, menjadi bisa lebih menerima kenyataan. Untuk kemudian ikhlas dan menikmatinya tanpa melirik lagi masa kanak-kanak dulu, ketika saya masih berhati yang tulus, masih lebih banyak tertawa. Yaaa... hidup itu sebuah siklus yang keras. Life is rock and roll, hidup itu keras seperti batu... 

Selasa, 29 Oktober 2013

Pantun Memantun Bebaso Dusun

Empat kali empat enam belas
sempat nedo sempat harus dibalas

1. aku nendak mandi di sereng
mandi di sereng kotor galo
aku nendak bebini kereteng
gumbak kereteng kutuan galo

2. Mak mano aku nak mandi
jeramba patah pangkalan anyot
makmano kito na jadi
umak porek ebak pulo nyegot

3. Jangan mudah nebarkan jalo
kalu nedo sanggup nyelami yo
jangan mudah nganjurkan  kato
kalu nedo sanggup njalani o

4. Puteh-puteh anak itik
masih putehla rotan tunggal
sedih-sedih adek nak balek
masih sedihla kakang  nu ditinggal

5.  Lah lamo betanam kencur
masih lamo menanam serai
lamo-lamo kito becampur
masih lah lamo kite becerai

6. Uma sapo nu beatap genteng
uma cek mamat di ulu lintang
palak  sapo nedo ke peneng
nginaki bapang balik ngebujang

7.  Kapal terbang bersayap duo
pata sikok umban ke bawah
kalo kakak ado pelinjangan duo
putuskan adeng pilihlah dio

8. Kelicuk pisang mata
makanan seaghi -aghi
berupok a dengan tula
kito lelaghian malam ini

9. Alang ke alap uma ini
tapi sayang di tengah utan
alang ke alap kakak  ini
cuman sayango jerawatan

Akhirnya Bupati Empat Lawang Di Periksa KPK

Hari selasa kemarin (29/10/2013) Komisi Pemberantasan Komisi (KPK) memeriksa sejumlah instansi di lingkungan Pemkab Empatlawang, serta ruangan kerja Bupati Empatlawang, Sejauh ini belum diketahui pasti indikasi pemeriksaan tersebut karena pemeriksaan dijaga ketat oleh pihak kepolisian dari satuan Brimob.


           Gambar; Suasana kantor Pemkab yang di jaga ketat, ketika berlangsungnya pemeriksaan

Sejumlah anggota KPK melakukan pemeriksaan sejak pukul 11.00 tersebut hingga pukul 14.00 masih tengah berlangsung. Sejumlah akses masuk kantor Bupati Empatlawang ditutup dan dijaga ketat kepolisian.

Mengutip pernyataan Penyidik KPK, Kompol Novel Boswedan usai pemeriksaan instansi Pemkab Empatlawang,  menyatakan, pihaknya hanya mengambil satu cover berkas untuk pemeriksaan, bukan berarti hal ini temuan.
"Berkas tersebut untuk pemeriksaan, artinya ini bukanlah temuan. Untuk lebih jelasnya konfirmasi dengan juru bicara, pak Johan saja," ungkapnya singkat.
Sementara Bupati Empatlawang, H Budi Antoni Aljufri usai pemeriksaan yang dilakukan lebih kurang 8 jam, yakni dari pukul 10.00 hingga 18.00 tersebut mengatakan, penggeledahan yang dilakukan KPK serentak di Kabupaten Empatlawang dan Kota Palembang terkait dugaan indikasi suap Ketua MK, Akil Mochtar. Ini merupakan hal yang wajar guna proses penyidikan.
"Ya, semua sudah diperiksa, pemeriksaan ini dilakukan lama, karena handphone karyawan diperiksa satu persatu. Kita juga tidak keberatan diperiksa, karena memang tidak, buktinya tidak ada temuan," katanya.
Ditambahkannya, penyidik KPK sempat mencurigai adanya dugaan penggunaan dana APBD untuk Pilkada lalu, namun setelah dilakukan pemeriksaan tidak ada. Selain di ruangannya, pemeriksaan juga dilakukan di kediamannya Puri Lampar. Dari sana mereka meminjam berkas yang berkaitan dengan Pilkada, seperti C1, serta hasil realcount. KPK juga menyita handphone dan BlackBerry miliknya guna penyidikan lebih lanjut.
"Tidak ada temuan penggunaan APBD atau lainnya, mereka hanya membawa sejumlah berkas termasuk handphone dan BB. Hanya saja pada tanggal 1 November nanti kita diminta datang ke KPK dan tentunya akan kita hadiri," ungkapnya.

Terpisah, kuasa hukum tim HBA-Syahril, Agus Cahyono menegaskan, proses perhitungan di MK dari 38 kotak suara yang disengketakan secara transparan yang disaksikan pengacara masing-masing, serta ditayangkan melalui live streaming merupakan bukti pengambilan keputusan MK tidak direkayasa.
"Mengutip statement dari wakil MK beberapa hari lalu, bahwasannya dia menjamin keputusan sengketa Pilkada Empatlawang bersih, karena memang transparan dan disaksikan secara umum, bisa dibuka di live streaming. Insyaallah, kalau terkait indikasi suap kita tidak terlibat dan perhitungannya dunia bisa melihat," tandasnya.


Sumber :  http://palembang.tribunnews.com

Senin, 28 Oktober 2013

Musik Empat Lawang

Musik Empat Lawang belumlah dikenal nian secaro baik dan meluas di tingkat nasional. Bahkan di daerah kito dewek pun masih banyak jemo nu belum mengetahui lok mano bentuk musik Empat Lawang itu? Apo Empat Lawang memiliki Musik Khas?

            Dalam peta musik di Indonesia, Empat Lawang nyaris belom tercatat atau didengar keberadoano. Padahal sebagai salah satu wilayah  nu memiliki kekhasan kebudayaan sendiri Empat Lawang nu duluo dikenal berbeda dengan budaya-budaya daerah lain, meski pun dilingkupi kebudayaan Sumatera Selatan nu besak.


           
Prihal musik, selain musik Empat Lawang, Sumatera Selatan jak di dulu memang  diperkaya pulo ngan irama-irama nu  khas nu berasal jak di nyanyian rakyat, tembang-tembang ngan senandung-senandung nu ado dalam bentuk penyampaian sastra tutur, misalo andai-andai, guritan, tadut, senjang, jelihiman, incang-incang, ringok-ringok dan lain-lain.

            Segalo bentuk musik ngan irama nu tersebar sebenaro merupakan basis nu pacak diolah ngan dikemas nyadi satu bentuk musik nu khas Empat Lawang. Selamo ini, belum ado nu secaro sungguh-sungguh dan percayo diri menggarap musik Empat Lawang ngan irama-irama tersebut.

         Mengenai inspirasi dalam penciptaan lagu-lagu, akhir-akhir ini para Generasi Empat Lawang memulai suatu kemajuan di bidang Music ini, dengan mulai menciptakan lagu-lagu nu  makai bahaso asli daerah Empat Lawang ngan Aransemenno pulo digarap ngan perpaduan musik asli daerah Empat Lawang, serto ngan  musik modern mako mudah diterimo ngan digemari masyarakat.
sejumlah lagu nu berhasil di ciptakan misalo  "Ngeresayo atau gotong royong, gadis kembang dusun, tuoi rasan kito, ngecek, singga kudai, umak balek la, mada cak gidik, empat lawang ilok, ketubean dan empat lawang emass. ”Sejumlah lagu tersebut merupakan hasil karya asli Generasi Empat Lawang.

Nah disini lagu-lagu kito pacak di download Free or gratissss. Lagu-lagu daerah dari Propinsi Sumatera Selatan or Lintang Empat Lawang,  Jangan lupo mangcek bikcek tu mampir dan bekomentar sebagai bentuk apresiasi kemajuan generasi-generasi Empat Lawang.


Rabu, 11 September 2013

Padang Surau Akan Segera Di Bangun



PENDOPO BARAT – Pemkab Empatlawang akan menjadikan kawasan Padang Surau menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Pendopo Barat.
Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan kesan kawasan yang dikenal paling rawan perampokan di wilayah Kabupaten Empatlawang tersebut.
Dimana selama ini, seringkali pengendara yang melintasi jalan propinsi Tebing Tinggi-Pendopo menjadi korban perampokan saat melintasi kawasan tersebut.
Bupati Empatlawang H Budi Antoni Aljufri mengatakan, dengan akan dijadikannya kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan dan aktifitas kemasyarakatan lainnya. Diharapkan angka kriminalitas yang terjadi dikawasan tersebut tidak akan terjadi lagi. Karena menurutnya, dirinya selaku bupati mengakui tingginya kriminalitas yang terjadi dikawasan tersebut.
“Kantor camat Pendopo Barat, Puskesmas, Kantor Babinsa, Polsek bahkan sekolah akan kita bangun di kawasan tersebut,” ujarnya, Jumat (8/2/2013).
Bahkan menurutnya masalah keamanan di wilayah Empatlawang khususnya di jalan raya memang menjadi permasalahan serius. Tingginya angka kriminalitas tersebut menurutnya menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkab Empatlawang.
Meskipun menurutnya hal tersebut menjadi tanggung jawab dan kewenangan pihak kepolisian. Dengan adanya pembangunan tersebut diharapkan akan menjadi solusi atau pemecahan masalah tersebut, khususnya di titik rawan kejahatan.
“Kita akui juga, karena belum adanya Mapolres juga menjadi salah satu faktor tingginya kriminalitas di Empatlawang,” tukasnya.
Terpisah Kabag Tapem Setda Empatlawang M Azhari membenarkan rencana lokasi pembangunan kantor camat Pendopo Barat akan dibangun di kawasan Padang Surau. Pembangunan itu nantinya kan ditempatkan di pinggir jalan provinsi.
Sebelumnya rencana pembangunan kantor camat tersebut bukan dipinggir jalan. Namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya dialihkan ke pinggir jalan.
“Lokasi yang lama merupakan tanah hibah, karena dianggap kurang cocok maka dianggarkan untuk pembelian atau ganti rugilahan yang dipinggir jalan,” ujarnya.
Sementara warga yang mendengar informasi tersebut menyambut baik rencana tersebut. Karena menurut warga, momok selama ini Padang Surau menjadi lokasi empuk para pelaku kejahatan melakukan aksinya benar adanya.
Puluhan kasus perampokan terjadi dikawasan tersebut setiap tahun, sehingga masyarakat sangat was-was jika harus melintasi kawasan tersebut apalagi dengan sepeda motor khususnya malam hari.
“Tidak usah malam hari, siang hari pun kalau kita melintas sendirian dengan sepeda motor sangat beruntung jika tidak kena todong,” ungkap Ridwan, warga Kelurahan Pagar Alam, Kecamatan Pendopo.


Sumber :  Koran Sindo

Senin, 09 September 2013

Di Temukan Lagi Ladang Ganja Di Empat Lawang





Kawasan perbukitan Cagak Pal, Desa Lesung Batu, Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang, kembali diobrak-abrik anggota Satres Narkoba Polres Lahat pimpinan Ipda Andrianto. Alhasil, 150 batang ganja setinggi 2 meter; 31 batang setinggi 90 centimeter; dan lebih dari 200 batang sekitar 15 centimeter, yang ditanam dilahan sekitar 3 Hektar, serta ribuan batang ganja dalam polybag, disita.
Termasuk pemilik ladang daun surga itu, Sangkut Putra alias Sangkut (26); dan Supriadi alias Sup (27), warga Desa Babatan, Kecamatan Lintang Kanan, berhasil dibekuk. Terungkap ladang ganja ini, setelah pengembangan dari tersangka Julius Nopriansyah (20), yang ditangkap Jum’at (22/02), bersama 56 paket ganja kering.

Nyanyian warga Jalan Ahmad Yani, Gang Swadaya, RT 08/03, Kelurahan Pagar Agung, Kecamatan Kota Lahat inilah, hingga polisi membongkar ladang ganja tersebut. Awalnya, polisi menangkap Supriadi di pondoknya, berikut 31 batang ganja umur sekitar 3 bulan. Polisi kembali berjalan kaki sekitar 1 jam, dengan tujuan pondok kebun Sangkut, yang juga berhasil dibekuk.

Dibalik rimbunnya pohon kopi, ternyata Sangkut menanam sekitar 150 batang ganja ukuran 2 meter. Tidak jauh dari pondoknya, juga ditemukan ribuan batang ganja dalam polibag, siap tanam. Sangkut mengaku mendapatkan bibit secara gratis dari kenalannya di Kota Palembang.
Sementara pengakuan Supriadi, baru sekali menanam ganja, bibitnya diperoleh dari Sangkut. Namun, dirinya mengakui menjual dua kilogram ganja milik Sangkut kepada warga Desa Lesung Batu. “Aku cuma dapat Rp 200 ribu dari jual ganja itu,” jelas bapak satu anak ini.

Kapolres Lahat AKBP Budi Suryanto SH MSi, melalui Kasatres Narkoba AKP Abu Dani SH, didampingi Kanit II Brigadir Agus Priadi mengatakan, masih menggali keterangan dari kedua tersangka. “Tahun 2012 lalu, sudah kita temukan satu hektar ladang ganja dilokasi perbukitan yang sama. Perkiraan kita masih ada yang lain, hingga perlu pendalaman lebih jauh,” katanya.

Terpisah, sedang asyik menikmati sate, Arlis Supriadi (38), warga Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Ulak Surung, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Lubuklinggau, dibekuk Satres Narkoba Polres Mura. Bersama sang bandar narkoba ini, disita barang bukti sepaket sabu seberat 2,42 gram atau senilai Rp 3,3 juta, sebilah pisau, dan Hp Nokia miliknya.

Penyergapan tersangka dilakukan di salah satu warung sate di Desa A Widodo, Kecamatan Tugumulyo, Mura, Senin (25/02), sekitar pukul 15.00 WIB. Tersangka mengaku jika BB tersebut didapat dari seseoarang berinisal AT, warga Kecamatan Terawas, Mura. Kapolres Mura AKBP M Barly Ramadhani, didampingi Kasatres Narkoba AKP Gunadi, melalui Kasi Humas Aiptu Arpan AR, membenarkan adanya penangkapan tersebut.

Minggu, 21 Juli 2013

Rinduku Sebagai Anak Desa

Didalam kehidupan modern sekarang ini, kita sering tergiur dengan kehidupan di kota. Dimana banyak orang berpikir bahwa kehidupan dikota sangat menyenangkan. Berbagai keperluan tersedia, tapi sadarkah kita bahwa kita tidak akan melihat keindahan yang bisa kita nikmati di desa. 






Mungkin ada yang beranggapan bahwa hidup di desa itu identik dengan kemiskinan, kampungan, atau seperti kata Mr.Tukul Arwana, KATRO....tapi apapun kata orang, aku sebagai orang yg dilahirkan didesa, tetap merinduhkan suasana itu.
Meskipun kehidupan di kampung tidak seglamour hidup di kota, tapi ada sensasi tersendiri dari kehidupan di pedesaan yg pasti tidak akan bisa ditemukan di perkotaan. Bayangkan, nikmatnya menghirup udara pagi yang segar, yang bebas dari polusi dan bersentuhan langsung dengan alam. 




Belum lagi suasana kekeluargaan yg masih kental di masyarakat desa..,budaya tolong menolong, yang merupakan nilai luhur kehidupan yg masih lestari ditengah keegoan dan toleransi yg makin menipis...
Ahh....damainya hidup didesa, kebahagiaan tidak datang dari limpahan materi dan tumpukan uang, tapi rasa syukur terhadap apa yang kita miliki, itulah yang membuat kita bahagia, makan kenyang, gak mikir utang....


Apalagi kalo mengingat masa kecil, waktu kecil aku bisa bebas mandi di sungai, main rakit dari batang bambu bersama teman-teman. Kita tertawa sambil menyelam cari kerang sungai. Selesai mandi kita makan bareng-bareng. Kejar-kejaran dan uber-uber layang-layang putus di padang rumput yang luas dan berlarian di pematang sawah. Memancing belut dan menangkap ikan di sawah yang berakhir dengan lempar-lempar lumpur bersama teman-teman. Teriak-teriak karena geli lihat pacet atau lintah nempel di betis dan paha.
Main perang-perangan di sekitar rumah yang banyak di tumbuhi pohon buah-buahan.  Kita bisa memanjat pohon sebagai tempat persembunyian dan menembaki teman dari atas. Senjatanya juga buatan dari bambu kecil  dan pelurunya dari buah semak. Dikala musim hujan kita suka mandi air hujan sambil berlarian seantero kampung kampung. Di waktu kemarau  siang atau sore hari kita bisa tidur-tiduran di padang rumput atau di kebun belakang rumah sambil menatap langit dan melihat burung elang yang berputar-putar di angkasa, mengintai mangsanya. Kita suka meniru suara elang kemudian tertawa lepas karena ada suara diantara kita yang cempreng bunyinya dan itu lucu bagi kami.







Ada satu lagi  momen yang masih tertinggal di memori ketika aku pulang ke kampung halaman. Segelas kopi hitam, disruput dengan aroma kesederhaan khas kehidupan kampung, benar-benar nuansa yang selalu membuatku rindu . Inilah kehidupan pedesaan, jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang selalu sok sibuk. Orang di kota merasa dipacu dengan waktu, tapi lihatlah disini kawan! ditempat ini, aura ketenangan menjalar di sudut-sudut kampung.


Kehidupan di desa itu terlihat ayem tentrem . Terkadang aku berpikir, kenapa banyak orang rela mencari pekerjaan di kota-kota besar. Termasuk aku sendiri yang akhirnya terdampar di salah satu kota besar negeri ini. Kadang aku berpikir, bisakah pemuda-pemuda pandai negeri ini membangun desanya? tak hanya oleh satu dua orang saja, tetapi di fasilitasi oleh pemerintah. Bisakah pemerintah menerbitkan sebuah program 'Ayo Kembali ke Desa!".

Banyak orang rela menghabiskan hidup di kota besar untuk meraih mimpinya, kemudian menghabiskan masa pensiun di desa dengan damai bersama hasil jerih payahnya selama ini. Tapi disinilah letak permasalahannya. Kota terlalu menggiurkan untuk tempat meraih kesuksesan. Di desa, tak banyak yang bisa diharapkan. Pusat teknologi berada di kota. Pusat peradaban ada di kota. Kota ibarat bunga-bunga mekar nan cantik bagi lebah-lebah pencari kesuksesan. Sedangkan desa masih sebatas lirikan mata. Yah mungkin karena itu tadi, waktu yang masih berjalan lambat.  
 Harapan yang tak terlalu muluk-muluk, semoga pasca pemilu kelak, pembangunan desa menjadi prioritas dan diperjuangkan bagi mereka yang terpilih. Sejatinya, ketika anak desa ‘Lintang Empat Lawang’, niscaya akan merasa bangga dan betah tinggal di desanya. Tidak ada lagi yang namanya ramai-ramai mencari peruntungan di kota. Pun sudah saatnya pemerataan pembangunan harus dilakukan, jangan lagi beri ruang kesenjangan pembangunan, ketimpangan perekonomian dan ketidak seimbangan yang selama ini berorientasi ke kota-kotaan. Saatnya pemimpin yang terpilih berani mengambil tantangan dan saatnya pula pengusaha menerima tantangan berinvestasi di desa.

Sungguh indah membayangkan bila desa maju seperti kota.







Rabu, 10 Juli 2013

Mengenang Ramadhan Tempo Dulu

Lama gak posting, tau-tau udah bulan Ramadhan. akhir-akhir ini setiap kali ngebuka blog binggung mo nulis apa, uda kehabisan bahan hehehe...   oya sobat sekalian yang suka mampir ke blog ini, selamat menunaikan ibadah puasa ya. Walau terasa telat saya mohon maaf lahir dan batin.
Ramadhan memang selalu menjadi bulan menyenangkan. Lepas dari keyakinan diri bahwa bulan ini adalah bulan penuh ampunan, Ramadhan rasanya menjadi bulan yang selalu ada di hati. Jangan-jangan ini juga dirasakan oleh umat yang puasa ataupun tidak.
Sayangnya dalam menyambut bulan puasa tahun ini lagi-lagi saya tidak berada di kampung halaman. nasib hidup di perantauan  selalu berada dalam ketidakpastian memang menyedihkan.

 Bicara soal bulan Ramadhan, kenangan paling berkesan tentu saja saat saya masih kecil. saya ingat semenjak Gus Dur menjadi presiden, semua siswa sekolah diliburkan ketika bulan Ramadhan. mungkin alasannya agar lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah puasa, tapi bagi kami anak-anak kecil pada waktu itu adalah kesempatan untuk bermain selama sebulan penuh. bahkan sampai ada yang berharap datangnya Ramadhan bukan karena berkahnya, tetapi karena liburnya. oleh karena itu ada beberapa hal yang berkesan dari bulan Ramadhan semasa saya kecil.

Ramadhan selalu dinanti-nanti, rasanya selalu ada kenangan yang sulit dilupakan dari bulan Ramadhan sebelumnya. Kenangan-kenangan itu sepertinya hadir dari kenangan Ramadhan di masa kecil. Bermain dengan kawan, menanti beduk magrib, berjalan-jalan setelah habis subuh, sholat tarawih bersama teman, semuanya tampak menyenangkan.

Buku Agenda Ramadhan
Anda pikir liburan di bulan Ramadhan yang diberikan pemerintah itu gratis ? nggak bro.. semua ada harganya. untuk kasus ini harga yang harus dibayar adalah dengan mengisi buku catatan Ramadhan. biasanya buku catatan ini diberikan oleh guru agama untuk diisi selama bulan Ramadhan dan nanti akan dikumpul dan diberi nilai setelah masuk sekolah lagi. yang harus dikerjakan cukup sederhana, cukup mengisi intisari ceramah dari masing-masing penceramah ketika shalat tarawih. setelah mencatat kemudian tinggal minta tandatangan deh. tujuan buku ini sebenarnya bagus untuk membuat anak-anak rajin sholat tarawih. tapi sayangnya beberapa anak mencatat ceramah, lalu cabut pas sholat tarawih dan kembali ketika minta tanda tangan.
Mercon/Petasan
Salah satu tanda-tanda datangnya bulan Ramadhan adalah bermunculannya pedagang petasan (selain iklan sirup yang bertebaran di TV). walaupun bebahaya dan dilarang pemerintah, bermain petasan bersama teman-teman memang seru (jangan di tiru ya). kalau anak-anak sudah bermain petasan, ributnya minta ampun, tambah lagi bau mesiu yang tercium kemana-mana. bagi sebagian orang dewasa aktifitas ini jelas mengganggu, tapi namanya juga anak kecil yang penting mereka senang. bahkan saya dan teman-teman pernah bermain petasan semasa SMA sampai harus dimarahi pak polisi yang sedang patroli. ternyata dulu saya nakal juga ya -__-"
Baju Baru
Di penghujung bulan Ramadhan, saya selalu menunggu momen membeli baju baru bersama orangtua. sebenarnya saya juga kurang mengerti darimana datangnya tradisi berbaju baru saat lebaran, karena sepertinya juga tidak ada hadistnya. tapi begitulah di Indonesia (dan Malaysia), baju baru menjadi penting, terutama bagi anak-anak. buat saya sendiri bisa dibilang beli baju baru dalam 1 tahun cuma sekali, ya saat menyambut lebaran ini.
Bikin Kue Lebaran
Sama seperti membeli baju baru, membuat kue juga merupakan bagian dalam menyambut hari raya Idul Fitri yang dilakukan di penghujung bulan Ramadhan. saat membuat kue ini menjadi berkesan karena dirumah hanya saya dan mama yang melakukan tugas ini. adik-adik saya ? mana peduli mereka, taunya cuma makan. biasanya dalam membuat kue ada ingredient yang membuat saya 'ngiler', yaitu Bolu. pengen dimakan tapi masih puasa, akhirnya saya minta mama menyisakan sedikit kerak yang tertinggal ketika mengangkat bolu tersebut dari loyang tersebut untuk berbuka nanti, hehehe...
lamanya pengerjaan kue tergantung dari seberapa banyak macam kue yang dibuat. biasanya di daerah kami Lintang Empat Lawang, ada rasa gengsi tersendiri di kalangan ibu-ibu terkait seberapa banyak jenis kue yang dibuat. semakin banyak jenis kuenya, semakin tinggi gengsinya, semakin bangga deh. kalau saya dengan mama sih masa bodoh dengan masalah begituan, yang penting tamu datang kue sudah tersedia.


Ramadhan selalu mengingatkan akan kebersamaan. Pada bulan ini saya memiliki banyak ingatan tentang makan bersama setelah seharian berpuasa. Bahkan saya masih mengingat piring bermotif bunga yang dulu sering kami gunakan untuk bersahur di  kala saya masih kecil, duduk bersama di atas sehelai tikar di dapur.

Masih terngiang alunan musik bimbo yang mengalun setiap sore di Ramadhan  masa kecil saya. mendengarnya selalu rindu bulan suci ini, entah mengapa. Padahal sorenya masih sama berwarna jingga, malamnya sama berwarna hitam gelap. Segala hal yang pernah menjadi kenangan menjadi sepaket bingkisan yang saya rindukan dari bulan bernama Ramadhan. Seseorang mengatakannya sebagai romantisme Ramadhan. oh indahnya..

Hari-hari menjelang Ramadhan hati terasa sedikit berbuncah, rasanya riang. Dulu saat saya kecil saya pun senang luar biasa, Ramadhan menjadi bulan yang ceria. Pasalnya setiap bulan puasa ada-ada aja moment yang bisa menorehkan kenangan-kenangan indah seusainya.

Sekarang saya telah dewasa, namun ramadhan masa kecil selalu saya rindukan. Bermain Meriam bambu, mancing seharian di sawah,  bermain Monopoli menanti sore,  masih banyak lagi hal-hal menyenangkan yang kerap saya lakukan di Ramadhan masa kecil.

Ramadhan bulan penuh rahmat, penuh kebahagiaan, penuh ampunan.  Maka saya akan selalu merindukan bulan ini,Selamat menikmati ramadhan semuanya

Senin, 24 Juni 2013

Fenomen Jejaring Sosial di Masyarakat Lintang Empat Lawang

Facebook, Twitter, Google+, Yahoo Mesenger, dll, setidaknya Siapa sih yang tidak kenal atau minimal pernahlah mendengar istilah ini? Dapat dipastikan jika seseorang itu berasal dari generasi 60-70-an sampai saat ini, pasti sudah pernah mendengar bahkan sangat sering mengetahui hal ini. Atau jangan-jangan justru Anda salah seorang yang memiliki semua akun tersebut? Ya, Jejaring sosial telah menjadi fenomena yang luar biasa dalam ranah dunia maya.

Oleh karena itu, jejaring sosial ini hakikatnya merupakan ajang pertemanan yang tansemuka alias tidak bertemu secara langsung antarindividu yang beraktivitas di dalam jejaring tersebut. Pendeknya, kemajuan teknologi internet telah mengubah pola hidup masyarakat di Indonesia bahkan telah muncul budaya siber (cyber cultur). Facebook, Twitter, saat ini bukan lagi sekedar ajang pertemanan belaka. Medium ini telah merambah pada sisi-sisi lain dari kehidupan manusia.

Jumlah penduduk Indonesia yang banyak menjadi pasar yang “menjanjikan” bagi facebook dan korporasinya. Maklum, kelas bawah pun sekarang asyik ber-facebook ria. Tanpa kasta, tanpa kelas, semua dapat mengakses facebook dengan membuat akun di internet. Apalagi teknologi internet saat ini dapat bergerak (mobile) dan fitur facebook hampir dapat ditemukan pada telepon selular (ponsel) keluaran baru. Orang tidak perlu lagi ke warnet atau repot-repot menenteng laptop kalau ingin ber-facebook-an.

Nahh.. kali ini kita akan bahas fenomena jejaring sosial di masyarakat Lintang Empat Lawang. Misalnya Fenomena facebook, bagaimanapun menarik untuk dicermati, dari anak SD sampai Ne'anang- Ne'ino (Kakek - Nenek), facebook sudah seperti bagian dari aktifitas keseharian mereka, dan yang menariknya disini, mereka dapat bercerita, berbagi kabar dengan menggunakan logat/ bahasa daerahnya. tidak sampai disini saja, masyarakat Lintang Empat Lawang yang merupakan daerah yang baru beberapa dekade memulai pemekarannya ini, begitu mahir dan ahli dalam memanfaatkan  semua fitur-fitur yang ada di facebook ini, mulai dari group facebook, fanspage, aplikasi dll.


Saya contohkan group facebook yang menjadi komunitas tempat berkumpulnya orang-orang Lintang Empat Lawang di Facebook ; "Jemo Lintang Pulo", "An-Ra-Pu-Lin", "Porsimel" dll.
Fanspage ; "Lintang Dusunku", Lintang Empat Lawang", Yopie Lintang" dll.
di Group facebook ini si Admin memberikan kabar berita tentang perkembangan apa saja yang menjadi trend di daerah Lintang Empat Lawang, dan anggotanya dapat mengikuti dan memberikan komentarnya seputar  berita-berita menarik di  Lintang Empat Lawang.

Tapi hal lain dari munculnya facebook dalam kehidupan masyarakat Lintang Empat Lawang yaitu mengenai isi atau konten dari setiap akun facebook yang dimiliki oleh para individu. hasil pengamatanku pribadi sebagian besar facebook atau para penggunanya yang diistilahkan facebookers, isi atau konten akunnya dikategorikan sebagai “sampah”.

Mengapa demikian? Hal ini didasarkan pada isi para facebookers yang menggunakan akun palsu serta tidak berbobot alias tidak bermutu. Hal ini hampir sama dengan survei yang pernah dirilis tentang penggunaan internet.  Pengguna facebook juga lebih tertarik untuk mencari situs-situs yang tergolong “sampah” dengan porsi terbesar pada soalan pornografi, sara dan sejenisnya.
 Akun facebook di Lintang Empat Lawang  pun,  cenderung berisi hal-hal yang ringan. Artinya, medium tersebut belum dioptimalkan sebagai wahana edukasi atau wahana lain yang lebih menguntungkan, baik secara materi maupun secara nonmateri.

Saya contohkan Group facebook yang memiliki muatan negatif di dalamnya " SIAPO CALON BUPATI EMPAT LAWANG YANG DI SUKAI", group facebook ini beranggotan para simpatisan fanatik dari calon Bupati masing-masing yang di dukung, banyak kata-kata serta hujatan yang  terlontar tanpa etika di komentar-komentar tiap akun. Hal ini karena facebook memiliki karakteristik serba bisa dan serba boleh. Bisa artinya, siapa pun orangnya, apakah ia Pemulung, apakah ia pengusaha, apakah ia pejabat, apakah ia mahasiswa,  bisa menjadi atau mendaftar menjadi anggota di dalam akun ini. Oleh karena itu, siapa pun bisa menjadi pelanggan facebook. Ada yang jualan, ada yang membuat tausiah, ada yang menjadi motivator. Pendek kata, apapun bisa dilakukan di dalam akun ini bergantung pada tujuan yang diingini oleh para facebookers.

Lalu bagaimana kaitannya dengan boleh? Pada sisi inilah yang agak krusial. Setiap yang diunggah di dalam akun facebook seseorang boleh apa saja. Benarkah demikian? Tampaknya ini yang masih perlu diketahui oleh para pengguna facebook. Tidak semua konten boleh diunggah begitu saja. Banyak rambu-rambu yang harus benar-benar dipahami oleh mereka para pengguna jejaring sosial facebook.

Rambu-rambu yang dimaksud tentu saja yang berkaitan dengan norma hukum positif yang ada. Salah satu norma hukum yang perlu dicermati misalnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Keberadaan UU ini memang pernah diperdebatkan terutama saat terjadi kasus pencemaran nama baik sebuah rumah sakit internasional di Jakarta yang diduga dilakukan oleh Prita Mulyasari. Dugaan tersebut dilakukan melalui internet alias curhat by inet. Kasus ini sempat ramai di ranah publik Nasional sehingga pernah muncul advokasi untuk Prita dengana label “Koin untuk Prita” karena yang bersangkutan dinyatakan bersalah dan harus membayar sejumlah denda. Inilah salah satu kasus yang menegaskan bahwa terminologi “boleh” harus tetap dalam batas yang sesuai dengan aturan yang ada. 

Pada dasarnya, teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Akan tetapi, jangan kita lalu diperbudak oleh teknologi. Facebook termasuk salah satu temuan abad ini yang luar biasa. Bahkan konon, sang penemu facebook pernah diusulkan untuk memperoleh hadiah Nobel. Oleh karena itu, pandai-pandailah membawa diri di dalam jejaring sosial ini. Telah banyak kasus yang bersifat pelanggaran baik pidana maupun perdata gara-gara akun facebook ini. Sudah saatnya kita belajar dari pengalaman di tempat lain. Saat ini globalisasi telah merambah ke dalam kamar-kamar kita. Dunia tanpa sekat lagi. Mobilitas informasi bahkan manusia tidak perlu lagi dilakukan secara fisik.

Silsilah Keluarga Besar Puyang Renjasin

Perna tidak kalian bertanya-tanya dari mana asalnya orang-orang yang mendiami daerah Lintang Empat Lawang..?
Menjawab sedikit dari pertanyaan itu maka kali ini saya akan memposting silsilah dari keturunan Puyang Renjasin.
Puyang Renjasin adalah puyang yang mendiami daerah di Lintang Empat Lawang, yang kemudian menghasilan keturunan yang turun temurun  menyebar di daerah Lintang Empat Lawang.

Istilah Puyang ini sendiri adalah di peruntukan bagi Leluhur atau nenek moyang dari keturunan yang ditelusuri (yang "puncak" dari segitiga keturunan). yang dipercaya merupakan cikal bakal terbentuknya suatu marga.

Gambar bagan silsilah puyang Renjasin ini di maksudkan supaya setiap keturunan dari Puyang Renjasin dapat mengetahui siapa dan bagaimana hubungan keluarga yang di milikinya dengan sesama keturunan puyang Renjasin.

klik gambar untuk memperbesar.









Sumber : http://renjasin.wordpress.com/


Warga Cemaskan Banjir Lahar Susulan



MUARA PINANG – Warga desa, khususnya petani di tiga desa, yakni Desa Lubuk Tanjung, Sapa Panjang, dan Talang Baru, Kecamatan Muara Pinang, Kabupaten Empatlawang, cemas dan khawatir adanya banjir lahar dingin susulan.
Hal itu disebabkan beberapa hari lalu lahar dingin yang disertai material pasir dan batu dari Gunung Dempo yang mengalir melalui Sungai Ayik Bayau menghantam puluhan hektare kebun kopi milik warga di kawasan tersebut. Meskipun tidak ada korban jiwa, karena lokasi permukiman yang cukup jauh, kerugian materiil dialami petani. Sebab, kebun dan sawah yang terhantam lahar dingin rusak.
Camat Muara Pinang Suryadi Husein mengatakan, meskipun tidak ada korban jiwa, para petani di kawasan tersebut khawatir terjadi banjir lahar susulan yang lebih besar. Akibat kejadian beberapa waktu lalu saja, dampaknya sudah puluhan hektare kebun kopi dan sawah milik petani yang rusak. Menurut Suryadi, jika terjadi banjir susulan dengan volume yang lebih besar, dikhawatirkan dampaknya akan semakin banyak kebun yang rusak dan sampai ke permukiman warga.
“Material yang dibawa banjir dan masuk ke kebun warga itu berupa pasir dan batu, tapi mengandung belerang, itu yang membuat kebun kopi rusak,” kata dia.
Suryadi mengatakan, kebun kopi atau sawah yang sudah terkontaminasi belereng sudah tidak akan produktif lagi. Karena dampaknya tanaman yang ada akan mati dengan sendirinya. Kondisi tersebut yang menyebabkan petani menjadi kesulitan akan dampak banjir lahar dingin tersebut.
“Itulah sebabnya mereka kami data dan laporkan ke Pemkab Empatlawang untuk dicarikan solusi, bagaimana mereka langkah selanjutnya,” kata dia.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Empatlawang Hasbullah mengatakan, kejadian tersebut salah satunya disebabkan adanya pendangkalan pada dasar Sungai Ayik Bayau. Sedangkan, material yang berasal dari Gunung Dempo selama ini terus turun karena dibawa oleh air.
Jadi, pada saat tertentu atau saat terjadi banjir magma akibat derasnya curah hujan, debit sungai meluap dan menghantam areal perkebunan warga di sepanjang DAS Ayik Bayau.
“Memang material yang dibawa air itu mengandung belerang, karena sungai itu sendiri merupakan alur belerang dari gunung Dempo,” ujar dia.
( Irhamudin )

Sumber :  Koran Sindo

KPU Siap Hadapi Gugatan HBA ke MK


TEBING TINGGI – Pihak Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Empatlawang menyatakan siap menghadapi gugatan salah satu kandidat calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawabup) Empatlawang ke Mahkamah Konstitusi (MK).
Gugatan akan dilakukan cabup dan cawabup nomor urut 1, H Budi Antoni Aljufri- H Syahril Hanafiah (Berhasil) yang tidak menerima hasil pleno KPUD Empatlawang yang menyatakan pasangan cabup dan cawabup nomor urut 2, H JoncikMuhammad- Ali Halimi (Jonli) pemenang Pilkada Empatlawang yang dilakukan 6 Juni lalu.
Ketua KPUD Empatlawang Murroaimin Zahri melalui komisioner divisi sosialisasi Listan Efendi mengatakan, keputusan yang mereka ambil di pleno KPUD Empatlawang berdasarkan alat bukti, yakni hasil pleno di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) di Empatlawang.
“Kami tetap pada ketetapan dan hasil pleno yang ada, soal nanti bakal ada gugatan dari pihak kandidat ke MK, kami siap menghadapi,” ujarnya, kemarin.
Menurutnya, apa pun yang nanti menjadi materi gugatan pihak Berhasil ke MK, pihaknya telah mempersiapkan diri. Karena secara kelembagaan, KPUD harus siap dengan segala bentuk gugatan dan keberatan. Khususnya yang berkaitan dengan pilkada.
“Intinya kami siap, namun sejauh ini belum ada pemberitahuan atau koordinasi terkait hal itu,” ujarnya.
Sebelumnya, ketua tim pemenangan pasangan Berhasil, David Hadrianto mengakui, akan menggugat hasil pleno KPUD Empatlawang yang menyatakan pasangan nomor urut 2, Joncik Muhammad-AliHalimi (Jonli) sebagai pemenang Pilkada Empatlawang. “Kami akan menggandeng konsultan politik yang berpengalaman menangani hal ini, khususnya masalah kecurangan pilkada,” ujarnya.
( Irhamudin )

Sumber :  Koran Sindo

Hampir 50% Remaja di Empat Lawang Putus Sekolah



TEBING TINGGI – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Empat Lawang, sebanyak 46,72 persen remaja usia produktif (16-18 tahun) putus sekolah dan nikah dini “Artinya hampir 50 persen anak-anak usia remaja tidak bersekolah.  Nah mengenai faktor apa kita tidak melakukan pendataanya, silakan konfirmasikan ke Disdik saja,” ujar Kasi Sosial (BPS), Joni Tupandegar, kemarin. 
Diuraikannya, persentase tersebut berasal dari survei BPS periode 2008 hingga 2011 dengan memakai   metode survei sangkatan kerja nasional (sakernas) dan survei sosial ekonomi nasional (Susenas).
“Kita menggunakan metode yang diambil tiap triwulan satu kali, jadi datanya update terus,”katanya.
Saat ditanyai mengenai keabsahan data tersebut, Joni mengatakan memang ada kemungkinan margin eror tetapi tetap pihaknya menggunakan standarisasi nasional.
” Kita menggunakan kedua metode tadi dengan rata-rata tingkat marginnya sekitar 0,5 persen,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) H. Akisropi melalui Kabid Pendidikan Menengah (Kadikmen), Regi Subono menegaskan, banyaknya anak usia remaja putus sekolah tersebut diakibatkan beberapa faktor seperti pernikahan dini, ekonomi dan keinginan anak itu sendiri.
Menyikapi hal itu, Disdik membuka selebar lebarnya bagi siswa yang berkeinginan untuk sekolah. Ini dibuktikan dengan adanya program sekolah gratis dan pembangunan  SMA di setiap kecamatan. “Tetapi kami tidak bisa memaksa mereka untuk sekolah,” ucapnya.
Dia mengimbau  masyarakat  umumnya dan  orang tua khususnya, untuk  membimbing anaknya  melanjutkan kejenjang SMA. “Karena untuk saat ini tidak ada alasan untuk tidak bisa mengenyam bangku sekolah bagi siapapun, walaupun demikian tergantung dengan anak itu sendiri kalau memang tidak mempunyai keinginan, otomatis kita tidak bisa memaksannya.” tandasnya.
(crl)

Sumber :  Sumatra Ekspres

Senin, 17 Juni 2013

Moralitas & Etika di Bumi Empat Lawang Kian Merosot

Perampokan, Perkelahian sampai dengan pembunuhan serta label watak dengan tempramen keras pada masyarakat Empat Lawang, apa sebenarnya yang memicu moralitas masyarkat kita yang kian merosot di bumi Empat lawang..?
Permasalahan moral dan etika yang rendah ini bersumber dari kesalahan lingkungan internal (keluarga) dan masyarakat sendiri, yang lambat laun tumbuh subur bak parasit yang menggerogoti norma-norma yang tertanam dalam masyarakat. 

Hal ini sangat banyak terjadi yang bermula pada anak-anak yang seharusnya masih dalam masa perkembangan dan pertumbuhannya diisi dengan hal-hal positif malah kurang menerima bimbingan dan pendidikan moral, sehingga  melahirkan generasi-generasi yang  mempunyai etika dan moralitas minim.

Kasus seperti ini biasanya disebabkan karena remaja mengalami perkembangan emosi yang masih labil. Mereka tengah dalam pencarian jati diri, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan menginternalisasi peraturan serta norma-norma yang berlaku sebagai proses menuju kedewasaan. Apabila dalam proses perkembangan tersebut tidak berjalan dengan seimbang, maka akan terjadi ketimpangan pada emosi. Ketimpangan tersebut mengakibatkan emosi menjadi tidak terkontrol dan cenderung menimbulkan tindakan anarkis.

Dalam kondisi seperti ini, keluarga memiliki peran yang signifikan dalam memberi pengarahan. Pola pendidikan yang diterapkan akan sangat mengarahkan emosi remaja. Namun, tidak semua keluarga mampu menjalin relasi yang baik dengan anak-anaknya. itulah yang terjadi di masyarakat kita Empat Lawang.

Ironisnya lagi, ada sebagian keluarga dalam masyarakat yang semestinya menjadi filterisasi dalam membentuk prilaku anggota keluarganya malah membiarkan/ melegalkan tindakan-tindakan anggota keluarganya yang berperilaku di luar norma & Etika. 



Apakah Perkembangan Prilaku pada usia seperti ini pantas...?


Apakah ini yang dinamakan tahap dalam pencarian Jati diri..? 


 Apakah Hiburan seperti ini tidak membawah dampak buruk..?


 Apakah Seperti ini pemanfaatan tekhnologi yang benar..?


 Apakah Ini buah hasil dari belajar serta pendewasaan selama tiga tahun..?



 Apakah ini gaya pergaulan yang di anggap keren bagi anak muda..?


Apakah ini permainan yang pantas bagi anak-anak usia dini..?

 


Oleh karena itu, perlu tindakan solutif untuk mencegah  semakin merosotnya moralitas kita masyarakat Empat Lawang. Salah satu solusinya adalah melalui pendidikan moral dalam keluarga.
Pentingnya pendidikan moral dalam ruang lingkup keluarga merupakan faktor yang penting dalam perkembangan emosi. Pola mendidik yang dilakukan oleh orang tua seharusnya tidak mendikte anak, tetapi memberi keteladanan. Tidak mengekang anak dalam melakukan hal yang positif, menghindari kekerasan dalam rumah tangga sehingga tercipta suasana rumah yang aman dan nyaman. Serta menanamkan dasar-dasar agama pada proses pendidikan. Karena, dengan menerapkan nilai-nilai keagamaan dapat membentengi anak dari pengaruh buruk apapun dan dari manapun. Bagaimanapun pendidikan anak adalah tanggungjawab keluarga.

Orang tua seharusnya memilihkan tontonan yang positif bagi anak-anaknya. Meskipun, membatasi tontonan pada usia remaja lebih sulit daripada anak-anak. Juga  mengawasi segala tingkah laku anak-anaknya baik ketika di rumah ataupun di sekolah.

Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat di jaman sekarang, sangat mempunyai pengaruh yang besar bagi perkembangan pendidikan anak. oleh karena itu dibutuhkan pengawasan yang lebih dari orang tua. Dari sinilah peran aktif dari keluarga terutama orang tua sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan para penerus bangsa yang cerdas dan berdedikasi tinggi untuk membangun bangsa indonesia yang lebih kuat.

Minggu, 16 Juni 2013

Pilkada dan Petaka di Empat Lawang

Usai sudah pemilihan kepala daerah (pilkada) Empat Lawang , tanggal 06 Juni 2013 yang lalu dimana masyarakat Empat Lawang menentukan dan menjatuhkan pilihannya melalui pencoblosan di tempat pemilihan suara (TPS) yang telah ditentukan. Berbagai hal terjadi dan fenomena yang berkembang dalam pasca pilkada tersebut. Masyarakat, KPUD, calon bupati dan wakil bupati Empat Lawang diuji dalam menyikapi permasalahan seputar hasil perolehan suara, yang notabene menimbulkan permasalahan, banyak pertanyaan-pertanyaan, kecurigaan, penolakan, yang  mengarah sampai tindakan anarkis yang dilakukan oleh simpatisan dari calon bupati yang merasa dirugikan. Yang diluapkan adanya pergolakan sampai perkelahian yang menimbulkan korban nyawa. 



 Inikah yang diinginkan masyarakat Empat Lawang ? Tentu tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Artinya  jikalau proses pilkada berjalan dengan berlandaskan kejujuran tentu tindakan-tindakan anarkis tidak akan terjadi. Tapi untuk mempertahankan statusquo politik apapun akan dilakukan, menghalalkan segala cara, penggelembungan suara, pembuatan kartu pemilih palsu, penerbitan KTP tanpa memperdulikan apa dampak dari perbuatan tersebut. Hal ini dilakukan hanya mempertahankan dan merebut kekuasaan semata, rakayatlah yang menjadi korban. 
 

Padahal, proses pilkada di Empat Lawan diharapkan menjadi moment penting dalam pembelajaran pendidikan politik dan suatu perkembangan yang maju dalam aplikasi demokrasi pancasila. Tetapi apa yang terjadi? Justru sungguh diluar dugaan, kenyataan bekata lain. 
 Mengutip dari buku Melawan Pembajakan Demokrasi yang ditulis oleh Ahmad Millah Hasan. “ Yang tidak siap kalah itu adalah yang melakukan segala cara untuk menang. Kalau kita mainnya fairness, semua akan legowo.”

Masyarakat Empat Lawang masih menunggu hasil keputusan Mahkamah Konstitusi. Mudah-mudahan saja keputusan yang akan ditorehkan Mahkamah Konstitusi bisa diterima masyarakat. Bagaimana pula jika keputusan itu nantinya menjadi keputusan yang controversial? Artinya akan menimbulkan suatu permasalah baru. Inilah yang seyogianya yang harus disikapi oleh Mahkamah Konstitusi.

Misalkan, Ketika keputusan Mahkamah Konstitusi nantinya memutuskan bahwa pilkada Empat Lawang akan di ulang ataupun ada indikasi kecurangan. Apakah calon yang terlibat/tersangka yang melakukan kecurangan tersebut masih ikut bertarung dalam pilkada ulang? Jawabannya : biarlah dijalankan sesuai aturan main yang berlaku.

KPUD Empat Lawang juga harus berani bertindak jujur sebagai penyelenggara pilkada, dan menyerahkan permasalahan ini melalui jalur hukum. Tanpa ada kesan diskriminasi terhadap calon bupati/wakil bupati. Karena siapapun yang menjadi pemenang pilkada Empat Lawang, patutlah harus didukung dan dihargai. Tapi prosesnya bukan melalui pembohongan, melainkan nyatakanlah secara benar dan jujur. Biarlah KPUD Empat Lawang tetap bertugas sesuai dengan prosedur  Undang-Undang Pilkada yang berlaku.
 

Petaka pasca pilkada Empat Lawang ini, menjadi pelajaran penting bagi rakyat Lintang. Kabupaten Empat Lawang belum bisa jadi contoh bagi daerah yang lain dalam hal penerapan pilkada sebagai proses demokrasi. Apakah permasalahan ini akan dibiarkan dengan waktu yang lama dan berbelit-belit? Atau akankah akan terjadi lagi permasalahan atau tragedi yang lebih parah dari yang sekarang? Jika penyelesaiannya arif dan bijaksana tentunya masyarakat akan menerima dengan legowo. Tetapi ketika penyelesaiannya tidak mencerminkan kejujuran/ manipulatif maka mungkin akan terjadi tindakan-tindakan yang destruktif.
 

Masyarakat Empat Lawang tidak hanya menginginakan pemimpin baru tetapi membutuhkan kepemimpinan baru. Rakyat Empat Lawang memanggil para pemimpinnya yang benar-benar pro-rakyat bukan anti rakyat. Rakyat Empat Lawang menginginkan/mendambakan kepemimpinan baru (new leadership) bukan hanya sekedar pemimpin baru (new leaders) semata.

 
Apapun yang menjadi keputusan hasil pilkada Empat Lawang dan siapapun yang menjadi pemenang pilkada biarlah itu menjadi keputusan yang bijaksana dan mengakhiri konflik  di Empat Lawang. Masyarakat Empat Lawang akan mengawal kepemimpinannya, menagih janji politiknya. Biarlah bupati terpilih menepati janjinya agar masyarakat tidak kecewa yang akhirnya menjadi pesimis.

Masyarakat sangat berharap bagi bupati Empat Lawang terpilih, nantinya bisa meningkatkan pelayanannya dibidang pendidikan, kesehatan, pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, sarana dan prasarana dan bidang-bidang lain demi kemajuan Empat Lawang yang jauh tertinggal dibandingkan kabupaten-kabupaten lain di Sumatera Selatan.
Semoga saja permasalahan/tragedi pasca pilakada Empat Lawang ini cepat selesai, masyarakat menunggu ending-nya. Tidak ada persoalan atau permasalahan yang tidak ada solusinya. Karena, kalau tidak ada solusi atau jalan keluarnya, itu bukanlah dikatakan suatu permasalahan. Semoga!